TKA 2026: Jangan Sekedar Capaian Sebatas Angka

PENULIS

DIUNGGAH PADA

Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 telah disiapkan dengan sejumlah penyempurnaan berdasarkan hasil evaluasi pelaksanaan tahun sebelumnya. Kemendikdasmen semakin menegaskan bahwa perbaikan dilakukan untuk meningkatkan kualitas asesmen, mengurangi kelelahan peserta, serta memperkuat pemanfaatan hasil TKA bagi sekolah dan murid.

Salah satu perubahan penting adalah pelaksanaan mata pelajaran wajib yang kini dijadwalkan satu mata pelajaran per hari. Durasi pengerjaan juga diperpanjang menjadi 75 menit untuk Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika guna memberikan kesempatan yang lebih memadai bagi peserta dalam menyelesaikan soal. Selain itu, murid SMK memperoleh pilihan mata uji yang lebih relevan dengan program keahliannya melalui penyediaan 50 mata uji vokasi.

TKA 2026 juga memperluas layanan bagi peserta berkebutuhan khusus, termasuk tuna netra, tuna rungu, dan peserta dengan hambatan belajar spektrum ringan. Di sisi lain, pelaksana­ an

Asesmen Nasional (AN) dan TKA diintegrasikan sehingga sekolah tidak perlu menyelenggarakan dua kegiatan asesmen yang terpisah.

Hasil TKA tidak hanya menampilkan nilai, tetapi juga analisis capaian kompetensi hingga tingkat indikator dan contoh soal sebagai bahan refleksi pembelajaran. Melalui berbagai penyempurnaan tersebut, TKA 2026 diharapkan menjadi instrumen asesmen yang lebih adil, inklusif, dan bermanfaat dalam mendukung peningkatan mutu pendidikan nasional.

Bahan Muhasabah

Rilis hasil TKA semestinya tidak disambut dengan perdebatan mengenai siapa yang tertinggi atau terendah. Beyond itu, jauh lebih penting dari itu adalah bagaimana data hasil TKA

digunakan sebagai bahan muhasabah pendidikan nasional. Esensi TKA sesungguhnya terletak pada kemampuannya memotret kondisi riil pembelajaran di sekolah. Jika tidak dimaknai secara tepat, TKA hanya akan menjadi deretan angka yang menimbulkan kegembiraan sesaat bagi sebagian pihak dan kekecewaan bagi pihak lainnya.

Kemendikdasmen menegaskan bahwa hasil TKA tidak dimaksudkan untuk menghasilkan peringkat sekolah, melainkan menjadi bahan refleksi dan perbaikan proses pembelajaran. Pesan

ini penting karena bangsa kita memiliki pengalaman panjang ketika asesmen pendidikan lebih banyak digunakan sebagai alat penghakiman daripada instrumen perbaikan.

TKA 2026 menghasilkan data pendidikan berskala nasional yang sangat kaya. Data tersebut tidak hanya menggambarkan capaian murid secara umum, tetapi juga memetakan kompetensi

hingga tingkat sekolah dan kategori kemampuan tertentu. Maknanya adalah pemerintah, pemerintah daerah, dan sekolah kini memiliki sumber informasi yang akurat untuk menyusun kebijakan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan sekolah.

Permasalahan sering muncul manakala data yang baik tidak otomatis melahirkan kebijakan yang baik. Banyak laporan pendidikan berakhir sebagai dokumen yang tersimpan rapi di lemari

administrasi. Pertanyaannya, bagaimana hasil TKA diterjemahkan menjadi tindakan nyata di ruang kelas. Guru perlu melihat lebih dalam dari sekadar skor akhir. Jika kemampuan numerasi

murid masih rendah, misalnya, maka yang perlu dicermati bukan hanya nilai matematika, melainkan juga bagaimana proses pembelajaran berlangsung.

Begitupun kemampuan membaca tidak hanya ditentukan oleh mata pelajaran Bahasa Indonesia. Literasi pasti berhubungan langsung dengan seluruh mata pelajaran. Murid yang terbiasa membaca, berdiskusi, menulis, dan mengemukakan argumentasi akan memiliki kemampuan berpikir lebih baik dibandingkan mereka yang hanya terbiasa menerima informasi secara pasif.

Karenanya, hasil TKA tidak boleh berhenti sebatas angka, tetapi perlu ditindaklanjuti dalam konteks implementasi Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) yang menekankan kemampuan berpikir kritis, analitis, reflektif, dan pemecahan masalah. Tindak lanjut ini penting karena tantangan abad ke-21 tidak lagi sekadar menuntut murid mengetahui sesuatu, melainkan mampu menggunakan pengetahuan tersebut untuk menyelesaikan persoalan kehidupan nyata.

Perbaikan Pembelajaran

Ukuran keberhasilan TKA bukanlah banyaknya laporan yang dihasilkan, melainkan sejauh mana hasil asesmen tersebut mampu mengubah praktik pembelajaran di kelas. Ketika guru memahami

kebutuhan belajar murid, sekolah semakin tepat merancang program penguatan kompetensi. Pemerintah juga semakin akurat menyusun kebijakan pendidikan berbasis data.

Kita meyakini hasil TKA telah digunakan sebagai perbaikan pembelajaran (assessment for learning). Pendidikan yang bermutu tidak dibangun berdasar asumsi, melainkan di atas data yang

digunakan sebagai implementasi kebijakan. Hasil TKA 2026 telah menyediakan data tersebut. Tantangan berikutnya adalah memastikan seluruh pemangku kepentingan pendidikan memiliki keberanian untuk mengubah data menjadi tindakan, dan tindakan menjadi budaya pembelajaran yang lebih baik.

Pada akhirnya, tujuan pendidikan bukanlah menghasilkan angka yang tinggi, melainkan membentuk manusia yang mampu berpikir, belajar, dan memberi manfaat bagi sesamanya. Hakikat inilah sebenarnya ukuran keberhasilan pendidikan yang sesungguhnya. 

Leave a Reply

Discover more from Moch. Abduh, Ph.D

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading