27 Ramadhan 1447 Hijriyah Bulan Ramadhan bukan sekadar momentum menahan lapar dan dahaga, tetapi juga madrasah ruhani untuk membina akhlak, termasuk dalam menjaga lisan. Di tengah arus komunikasi digital yang kian deras, kemampuan mengendalikan ucapan, baik lisan maupun tulisan, menjadi kunci kebahagiaan personal sekaligus harmoni sosial. Ramadhan menghadirkan latihan spiritual agar setiap kata yang terucap bernilai ibadah dan menghadirkan ketenangan batin.
Lisan dalam Timbangan Ibadah
Dalam ajaran Islam, menjaga lisan merupakan bagian integral dari kesempurnaan iman. Al-Qur’an menegaskan pentingnya berkata baik, sebagaimana firman ALLOH SWT dalam QS. Al-Ahzab [33]:70,
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada ALLOH SWT dan ucapkanlah perkataan yang benar”. Ayat ini menunjukkan bahwa kualitas iman tercermin dari kualitas ucapan. Sejalan dengan itu, Rasulullah juga bersabda,
“Barang siapa yang beriman kepada ALLOH SWT dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam” (HR. Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj). Hadis ini menegaskan bahwa menjaga lisan adalah indikator keimanan yang autentik. Khusus dalam konteks puasa, Rasulullah pun bersabda, “Puasa bukanlah sekadar menahan makan dan minum, tetapi juga menahan diri dari perkataan sia-sia dan keji” (HR. Ibn Majah). Sehingga patut dipahami bahwa Ramadhan melatih umat Islam untuk tidak hanya menahan fisik, tetapi juga mengendalikan ekspresi verbal yang berpotensi menyakiti orang lain.
Menjaga Lisan sebagai Jalan Kebahagiaan
Secara psikologis, kata-kata memiliki dampak besar terhadap kondisi emosional seseorang. Ucapan yang positif dan penuh empati dapat memperkuat relasi sosial serta meningkatkan kesejahteraan mental. Sebaliknya, kata-kata kasar, gosip, dan fitnah dapat merusak hubungan serta menimbulkan beban psikologis. Apakah ucapan lisan berhubungan dengan kebahagiaan? Ya, konsep kebahagiaan dalam Islam tidak semata-mata bersifat material, tetapi terkait dengan ketenangan hati (sakînah). Ihya’ Ulum al-Din karya Al-Ghazali menjelaskan bahwa lisan adalah cerminan hati, secara maknawi berarti ketika hati bersih, ucapan pun akan terjaga. Karenanya menjaga lisan berarti merawat kebersihan batin, yang pada akhirnya melahirkan kebahagiaan sejati. Sabda Rasulullah agar manusia berkata baik atau diam, dalam perspektif tasawuf, diam yang terjaga dari keburukan bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan spiritual. Diam memberi ruang untuk refleksi, memperdalam dzikir, dan memperkuat hubungan dengan ALLOH SWT. Ramadhan menyediakan atmosfer spiritual yang kondusif untuk membiasakan praktik ini.
Tantangan Menjaga Lisan di Era Digital
Di era media sosial, lisan tidak hanya berupa ucapan verbal, tetapi juga tulisan dan komentar. Setiap unggahan dan respons dapat menjadi amal jariyah atau sebaliknya. Prinsip menjaga lisan relevan dengan etika komunikasi digital dalam bentuk tidak menyebar hoaks, tidak mencela, serta menghindari ujaran kebencian. Dalam QS. Al-Hujurat [49]:12
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ
kita dilarang berprasangka buruk dan ghibah (menggunjing). Ayat ini sangat kontekstual dengan budaya digital masa kini, dimana informasi sering disebarkan tanpa verifikasi. Ramadhan menjadi momentum untuk memperbaiki pola komunikasi digital kita agar lebih santun dan bertanggung jawab. Bagaimana strategi praktis menjaga lisan di bulan Ramadhan? Pertama, meningkatkan kesadaran diri (self awareness). Setiap hendak berbicara dan berucap, kita tanyakan pada diri sendiri, apakah ini benar, perlu, dan baik? Kedua, memperbanyak dzikir dan tilawah. Mengisi Ramadhan dengan memanfaatkan lisan untuk membaca Al-Qur’an dan dzikir akan mengurangi peluang untuk berkata sia-sia. Ketiga, menghindari majelis ghibah. Ketika berada dalam percakapan negatif, segera alihkan topik pembicaraan atau memilih diam. Keempat, mengelola emosi. Puasa adalah media untuk melatih kesabaran, saat emosi memuncak, dianjurkan untuk menahan diri dan memperbanyak istighfar. Kelima, menerapkan etika digital. Perlu sesering mungkin melakukan verifikasi informasi sebelum membagikan, serta hindari komentar provokatif.
Akhir Kalam
Menjaga lisan menghadirkan tiga kebahagiaan sekaligus, yaitu kebahagiaan spiritual karena memperoleh ridha ALLOH SWT, kebahagiaan sosial karena hubungan yang harmonis, dan kebahagiaan psikologis karena hati yang damai. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa salah satu penyebab keselamatan manusia adalah kemampuannya menjaga lisan. Ramadhan pada akhirnya bukan hanya ritual tahunan, melainkan proses transformasi diri. Ketika Ramadhan usai, kebiasaan menjaga lisan seharusnya tetap terpelihara sebagai karakter permanen. Dengan demikian, kebahagiaan yang diraih bukanlah kebahagiaan sesaat, tetapi kebahagiaan yang berakar pada ketakwaan dan kematangan akhlak.

Leave a comment