Pada 24 – 25 November 2025, Republik Slovakia menjadi tuan rumah Bratislava AI Summit 2025 di Bratislava, ibukota Republik Slovakia. Bratislava AI Summit 2025 merupakan forum internasional tingkat tinggi yang menghadirkan pemimpin dunia dari PBB, UNESCO, OECD, Uni Eropa, serta perwakilan kementerian pendidikan lebih dari 30 negara. Forum ini menjadi ruang strategis untuk menyamakan persepsi dan membangun komitmen global mengenai masa depan Artificial Intelligence (AI)/Kecerdasan Artifisial (KA) dalam pendidikan.
Saya mendapat penugasan mewakili Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah menghadiri rangkaian Bratislava AI Summit 2025 tersebut. Suatu kehormatan tersendiri mendapatkan perugasan untuk berpartisipasi dan menyaksikan langsung bagaimana komunitas global merumuskan arah pemanfaatan KA dalam pendidikan agar kemajuan teknologi tetap sejalan dengan nilai kemanusiaan dan memperkuat kemampuan dasar manusia.
Bratislava AI Summit 2025 juga forum bersama yang digagas pemerintah Republik Slovakia dan OECD untuk membahas pemanfaatan KA dalam mendukung pembelajaran lebih efektif, dampak KA, bagaimana KA dapat mendukung inklusivitas, praktik penyesuaian kurikulum dan pedagogi KA, serta panduan keamanan dan etika penggunaan KA dalam pendidikan.
Rangkaian Kegiatan
Agenda yang saya jalani di forum tersebut meliputi: 1) Meeting of Ministers of Education on the Future of AI in Education di Bratislava Castle. Pertemuan ini terbagi ke dalam dua topik diskusi, yaitu Learning with AI – the “HOW” dan Interactive Roundtables: Learning for the World with AI – the “WHAT” & Engaging in Dialogue with Industry Representative; 2) High-Level Summit on AI, menekankan perlunya koordinasi internasional untuk pemanfaatan KA yang bertanggung jawab serta menyeimbangkan optimisme dan kehati-hatian atas dampak ekonominya; 3) The 25th Anniversary of Slovakia’s Accession to the OECD, resepsi diplomatik memperingati 25 tahun keanggotaan Slovakia di OECD; dan 4) Plenary Welcome Session of the OECD Global Forum on the Future of Education Skills 2030, wadah pertukaran praktik pembelajaran dalam mengintegrasikan KA ke dalam kurikulum dan pedagogi.
Forum ini dibuka secara resmi oleh Presiden Republik Slovakia, Peter Pellegrini, dengan kehadiran tokoh-tokoh penting seperti Menteri Pendidikan, Riset, Pengembangan dan Pemuda, Slovakia, Tomáš Drucker, serta Christine Lagarde, Presiden Bank Sentral Eropa, sebagai keynote speaker. Kegiatan ini juga menjadi arena diskusi bersama pemimpin organisasi global dan para pakar, termasuk Mathias Cormann, Sekretaris Jenderal OECD, serta Andreas Schleicher, Director for Education and Skills OECD, bersama para representasi dari PBB, UNESCO, Uni Eropa, dan negara-negara anggota OECD. Perwakilan perusahaan teknologi besar seperti Microsoft dan NVIDIA turut hadir mendiskusikan pemanfaatan KA yang bertanggung jawab dalam dunia pendidikan.
Komitmen Global
Ketika teknologi KA berkembang dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya, dunia pendidikan menghadapi tuntutan transformasi besar. Slovakia, melalui penyelenggaraan forum ini, menunjukkan ketegasan arahnya. Presiden Slovakia Peter Pellegrini dan Presiden Bank Sentral Eropa Christine Lagarde membuka forum dengan pandangan tegas tentang perlunya tata kelola KA yang etis, aman, dan berpihak pada pengembangan manusia.
Puncak forum ini adalah OECD Global Forum on the Future of Education and Skills, yang menegaskan perlunya pergeseran kurikulum dari fokus “apa yang dipelajari” menuju “bagaimana cara belajar”. KA diyakini akan membuat pembelajaran lebih personal, adaptif, dan berbasis data. Namun, OECD juga memberi peringatan bahwa teknologi harus dikendalikan agar tetap berpihak pada manusia. Sesi dibuka dengan paparan Director of Education and Skills OECD, Andreas Schleicher mengenai kesempatan, panduan dan batasan dalam penggunaan KA generatif dalam pendidikan.
OECD memperlihatkan contoh data penggunaan KA seperti Large Language Models (LLM) menurunkan keterlibatan otak dan aktivitas kognitif. Namun di sisi lain penggunaan KA seperti Tutor Co-Pilot meningkatkan hasil pembelajaran murid. KA perlu dimanfaatkan secara terarah sebagai alat yang mempercepat pembelajaran, mendukung guru, dan mendorong pemerataan. Penggunaan KA oleh murid harus sesuai tujuan dan dalam skenario pembelajaran yang dirancang guru, bukan sebagai jalan pintas. Selain itu, murid tetap harus dapat menguasai pembelajaran dasar tanpa bantuan KA.
Diskusi dimoderatori oleh Director of Education and Skills OECD dan dilaksanakan secara panel dengan negara panelis Indonesia, Finlandia, Thailand, India, Yunani, Saudi Arabia, dan Spanyol. Delegasi Indonesia menyampaikan beberapa hal terkait kurikulum Koding dan KA. Pertama, Koding dan KA menjadi mata pelajaran pilihan pada tingkat pendidikan dasar dan menengah yang dimulai dari kelas 5 SD. Pelajaran Koding dan KA merupakan mata pelajaran tersendiri yang tidak terintegrasi ke dalam mata pelajaran lain.
Kedua, pelaksanaan monitoring implementasi mata pelajaran pilihan koding dan KA ke dalam kurikulum, seperti capaian pembelajaran, asesmen nasional, evaluasi pelaksanaan di sekolah model, dan program sertifikasi dan pelatihan guru. Ketiga, upaya pembelajaran KA melalui tiga model pembelajaran, yaitu berbasis internet, berbasis perangkat, dan tanpa perangkat. Model berbasis perangkat dilaksanakan pada daerah yang memiliki tingkat akses yang rendah. Model tanpa perangkat diterapkan pada daerah yang tidak memiliki akses internet dan tidak memerlukan peralatan digital. Model pembelajaran tanpa perangkat mencakup kartu algoritma, puzzle, papan logika, simulasi gerak, dan permainan pola. Sekolah diberikan keleluasaan melaksanakan pembelajaran koding dan KA baik ke dalam intrakurikuler atau ekstrakurikuler.
Keempat, hasil studi PISA menunjukkan bahwa murid Indonesia masih kesulitan dalam keterampilan literasi tingkat lanjut. Untuk menutup gap tersebut, Indonesia mengintegrasikan beberapa komponen dalam kurikulum Koding dan KA, yaitu penguatan literasi digital dan etika KA, penguatan berpikir komputasional untuk membantu penalaran tingkat tinggi, integrasi upaya peningkatan literasi dan numerasi dalam seluruh mata pelajaran, pelatihan guru yang menekankan pedagogi terdiferensiasi, penggunaan KA yang bertanggung jawab, dan memastikan KA berfungsi sebagai pelengkap bukan mengganti peran manusia dalam pembelajaran.
Tata Kelola Sistem Pendidikan
Selanjutnya muncul pertanyaan menggelayut di pikiran, mengapa Republik Slovakia begitu yakin dan merasa siap menghadapi era kecerdasan artifisial? Dikutip dari beberapa sumber, salah satu negara yang menunjukkan ketegasan arah dalam menghadapi perubahan ini adalah Republik Slovakia, melalui tata kelola pendidikan yang sistematis, pembiayaan yang transparan, serta komitmen kuat terhadap ilmu pengetahuan dan inovasi. Komitmen global yang disuarakan dalam forum tersebut berakar kuat pada fondasi pendidikan Slovakia yang telah tertata rapi.

Moch. Abduh (kanan) berdiskusi dengan
Menteri Pendidikan Slovakia, Tomas
Drucker, di sela OECD Global Summit.
Kementerian Pendidikan, Riset, Pengembangan, dan Pemuda, Slovakia merupakan lembaga sentral yang mengatur pendidikan dasar hingga tinggi, pembelajaran sepanjang hayat, riset, serta program-program pemuda. Dengan mandat hukum yang jelas melalui Statute of the Ministry, kementerian ini membangun struktur organisasi dan hubungan antarlembaga secara presisi. Pengaturan tersebut memungkinkan seluruh sekolah, baik negeri, swasta, keagamaan, maupun fasilitas pendidikan khusus, beroperasi dalam kerangka kebijakan yang harmonis.
Salah satu kekuatan sistem pendidikan Slovakia terletak pada penataan jenjang yang komprehensif, mulai dari prasekolah hingga menengah. Pendidikan prasekolah menekankan perkembangan sosial dan emosional anak. Sementara pendidikan dasar memperkuat pengetahuan ilmiah, nilai kemanusiaan, demokrasi, hingga ekologi. Jenjang menengah menyediakan jalur akademik melalui gymnasiums dan jalur vokasional melalui sekolah kejuruan.
Slovakia juga memberi ruang besar untuk pendidikan seni, pendidikan khusus bagi penyandang disabilitas, serta pendidikan bagi minoritas bahasa seperti Hungaria, Ukraina, Ruthenia, dan Jerman. Keseluruhan sistem ini memperlihatkan orientasi pemerataan yang selaras dengan prinsip inklusivitas di Eropa Tengah.
Dalam konteks pembiayaan, Slovakia menerapkan sistem pendanaan normatif per peserta didik, dengan desentralisasi dua tingkat yang memungkinkan pemerintah daerah dan pengelola sekolah lebih leluasa mengelola kebutuhan pendidikan. Skema pendanaan melalui shared taxes sejak 2005 dan 2007 menciptakan kesetaraan antara sekolah negeri, swasta, maupun keagamaan. Sistem pendanaan yang transparan dan stabil menjadi fondasi penting untuk investasi jangka panjang di bidang teknologi pendidikan, termasuk integrasi sistem KA.
Tantangan sesungguhnya muncul ketika seluruh struktur tersebut memasuki era KA. Teknologi digital berkembang jauh lebih cepat daripada kurikulum dan kebijakan pendidikan. Dalam konteks inilah Slovakia mengambil langkah proaktif: modernisasi kurikulum, penguatan literasi digital, pelatihan guru berbasis teknologi, serta digitalisasi sekolah. Negara ini menegaskan bahwa KA bukan sekadar alat bantu pembelajaran, tetapi paradigma baru yang harus diintegrasikan ke dalam ekosistem pendidikan secara sistematis.
Pelajaran untuk Indonesia
Pengalaman Slovakia menunjukkan bahwa kesiapan menghadapi era KA bukan hanya bergantung pada kecanggihan teknologi, tetapi pada kekuatan tata kelola dan konsistensi kebijakan. KA hanya dapat berkontribusi optimal bila sistem pendidikan memiliki landasan yang rapi, mekanisme pembiayaan yang jelas, serta kesadaran kolektif mengenai peran teknologi dalam masa depan kemanusiaan.
Indonesia dapat mengambil pelajaran dari Slovakia bahwa transformasi pendidikan berbasis KA membutuhkan sinergi global, visi kebijakan yang kuat, dan investasi berkelanjutan pada guru sebagai aktor utama perubahan. Forum Bratislava AI Summit 2025 menunjukkan bahwa dunia tidak lagi bergerak sendiri-sendiri. Pendidikan masa depan membutuhkan dialog, kolaborasi, dan keberanian untuk beradaptasi agar manusia tetap menjadi pusat dalam era teknologi super cepat.
Artikel ini dipublikasi di Majalah Matan edisi 234, Januari 2026.

Leave a comment