Penguatan Karakter Siswa melalui Pembiasaan Pengucapan 3 Magical Words

PENULIS

DIUNGGAH PADA

Salah satu program prioritas Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemdikdasmen) saat ini adalah penguatan karakter murid. Maknanya adalah upaya peningkatan mutu pendidikan di Indonesia saat ini tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik semata, tetapi juga pada pembentukan dan penguatan karakter murid. Di tengah tantangan era digital, globalisasi, dan perubahan sosial yang cepat, sopan santun sering kali terlupakan. Penguatan karakter tidak selalu membutuhkan program besar dan kompleks. Karakter kuat tidak selalu dibangun dari hal besar. Penguatan karakter melalui pembiasaan sesuatu yang nampak sederhana menjadi fondasi penting agar murid tumbuh sebagai manusia yang cerdas, beretika, dan berkepribadian luhur.

Salah satu cara paling sederhana, mudah dan murah namun bermakna untuk menanamkan nilai karakter adalah melalui pembiasaan pengucapan kata permisi, maaf, dan terima kasih dalam kehidupan sehari-hari. Ini merupakan adaptasi pembiasaan di negara-negara berbudaya tinggi melalui pengucapan excuse me, sorry dan thank you. Ketiganya kerap dikenal sebagai 3 magical words. Disebut magical karena mampu membangun hubungan positif, menciptakan suasana saling menghargai, serta menumbuhkan nilai-nilai karakter luhur dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga kata ini bukan sekadar ungkapan sopan santun, melainkan sarana pendidikan karakter yang hidup dan kontekstual dengan kehidupan nyata sehari-hari. Kata-kata ini mungkin terdengar sepele, namun jika dibiasakan sejak dini, mampu menanamkan nilai karakter yang akan melekat hingga dewasa.

Dalam bukunya yang berjudul Educating for Character: How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility, Thomas Lickona (2013) menegaskan bahwa pendidikan karakter yang efektif tidak cukup hanya diajarkan sebagai konsep moral, tetapi harus dipraktikkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari sekolah. Karakter dibentuk melalui kebiasaan (habit formation), keteladanan, dan budaya lingkungan yang konsisten. Pada konteks ini, pembiasaan pengucapan permisi, maaf, dan terima kasih merupakan contoh konkret pendidikan karakter yang relevan dan aplikatif bagi murid Indonesia.

Hal yang kurang lebih sama, Suyanto (2010) dalam bukunya Pendidikan Karakter: Teori dan Aplikasi menegaskan bahwa pendidikan karakter pada hakikatnya adalah proses pembudayaan nilai-nilai luhur melalui pembiasaan, keteladanan, dan pengkondisian lingkungan. Karakter tidak cukup diajarkan dalam bentuk pengetahuan, tetapi harus dibiasakan dalam perilaku nyata yang terus-menerus. Dalam konteks ini, pembiasaan pengucapan permisi, maaf, dan terima kasih merupakan praktik sederhana namun strategis dalam pembentukan karakter murid Indonesia. Pembiasaan (habituation) adalah kunci keberhasilan pendidikan karakter. Nilai-nilai moral akan tertanam kuat jika dilakukan secara berulang dan konsisten dalam kehidupan sehari-hari. Ungkapan permisi, maaf, dan terima kasih menjadi media pembiasaan yang konkret karena mudah dipraktikkan oleh siswa, relevan dengan kehidupan sehari-hari, dan langsung menyentuh ranah sikap dan perilaku.

Kecil Ucapannya, Besar Dampaknya

Di tengah tantangan zaman digital, ketika bentuk komunikasi yang terjadi baik di rumah maupun sekolah sering berlangsung singkat, cepat, dan kadang kurang santun, kata-kata permisi, maaf, dan terima kasih hadir sebagai penyeimbang. Permisi, mengajarkan siswa untuk rendah hati dan menghargai hak dan keberadaan orang lain. Anak belajar bahwa meminta bantuan bukanlah kelemahan, melainkan bentuk kerja sama. Maaf melatih keberanian mengakui kesalahan, menumbuhkan tanggung jawab, dan mengendalikan emosi. Terima kasih menumbuhkan rasa syukur dan sikap menghargai setiap kebaikan, sekecil apa pun.

Permisi: Menanamkan Nilai Ramah Santun dan Kepedulian Sosial

Kata permisi mencerminkan nilai kesopanan, penghormatan, empati, dan kepedulian terhadap orang lain. Nilai-nilai ini merupakan bagian dari karakter bangsa yang perlu diwariskan melalui pendidikan. Pembiasaan mengucapkan permisi membantu murid memahami bahwa setiap tindakan sosial harus dilakukan dengan memperhatikan norma dan etika.

Permisi juga dimaknai sebagai cara untuk mengajarkan respect. Lickona menempatkan respect (rasa hormat) sebagai salah satu nilai karakter inti. Kata permisi mencerminkan sikap menghargai hak, ruang, dan perasaan orang lain. Melalui pembiasaan pengucapan ini, murid belajar bahwa setiap individu layak dihormati, tindakan pribadi tidak boleh mengabaikan orang lain, dan kesopanan adalah bentuk nyata dari rasa hormat. Dalam konteks persekolahan, pembiasaan pengucapan permisi ini membangun iklim belajar yang saling menghormati, aman, nyaman dan menggembirakan sebagaimana ditekankan Lickona dalam konsep respectful school culture.

Maaf: Membentuk Sikap Tanggung Jawab dan Kejujuran

Penguatan karakter harus melatih murid untuk bertanggung jawab atas perbuatannya. Kata maaf mengajarkan murid untuk mengakui kesalahan secara jujur, memiliki keberanian moral, dan memperbaiki hubungan sosial yang terganggu. Melalui pembiasaan ini, murid belajar bahwa kesalahan bukan untuk ditutupi, melainkan diperbaiki secara bermartabat.

Kemampuan mengucapkan maaf mencerminkan kematangan emosional. Murid yang terbiasa meminta maaf akan lebih mudah mengakui kesalahan, mengendalikan emosi, serta memperbaiki hubungan sosial. Pembiasaan kata ini menumbuhkan nilai tanggung jawab, kejujuran, dan sikap reflektif. Budaya meminta maaf di sekolah juga mendorong penyelesaian konflik secara damai dan bermartabat, tanpa kekerasan verbal maupun fisik. Mengucapkan maaf juga bukan tanda kelemahan, melainkan tanda kedewasaan. Melalui pembiasaan kata ini, siswa belajar tanggung jawab, kejujuran, dan pengendalian diri. Mereka diajak untuk menyadari kesalahan, memperbaiki sikap, dan menjaga hubungan baik dengan sesama.

Kata maaf melatih siswa untuk mengakui kesalahan secara jujur, bertanggung jawab atas tindakan sendiri, dan memperbaiki hubungan yang terganggu. Lickona menyatakan bahwa sekolah yang baik adalah sekolah yang membantu siswa belajar bertanggung jawab atas pilihan moralnya, bukan sekadar takut pada hukuman. Budaya meminta maaf mendidik siswa untuk menyelesaikan konflik secara bermartabat.

Terima Kasih: Menumbuhkan Rasa Syukur dan Apresiasi

Kata terima kasih mengajarkan murid untuk menghargai setiap bentuk kebaikan, baik dari guru, teman, maupun lingkungan sekitar. Sikap ini menumbuhkan rasa syukur, penghargaan, dan sikap positif dalam berinteraksi. Lingkungan belajar pun menjadi lebih hangat, inklusif, dan saling mendukung. Mengucapkan terima kasih menanamkan nilai rasa syukur, penghargaan, dan empati. Menurut Suyanto, sikap menghargai merupakan fondasi penting dalam membangun karakter sosial yang positif. Kebiasaan ini memperkuat hubungan antar individu dan menciptakan iklim belajar yang harmonis.

Kata terima kasih juga mengajarkan siswa untuk menghargai setiap kebaikan, sekecil apa pun. Sikap ini menumbuhkan rasa syukur, sikap positif, dan penghormatan terhadap orang lain. Mengucapkan terima kasih menumbuhkan rasa syukur, empati, dan penghargaan terhadap kebaikan orang lain. Dalam pandangan Lickona, kebiasaan ini memperkuat moral feeling, karena siswa belajar merasakan dan menghargai nilai kebaikan dalam relasi sosial. Lingkungan sekolah yang dipenuhi ungkapan terima kasih akan membentuk suasana yang positif dan penuh kepedulian.

Strategi Pembiasaan

Penguatan karakter melalui pembiasaan pengucapan tiga kata ini efektif jika dilakukan secara konsisten dan kolaboratif. Di sekolah, para guru dan tenaga kependidikan menjadi teladan dalam berbahasa santun. Ungkapan 3 magical words digunakan dalam proses pembelajaran, interaksi antar murid dan kegiatan sekolah. Sementara di keluarga, orang tua membiasakan anak menggunakan 3 magical words saat berkomunikasi di rumah, sehingga nilai karakter tertanam secara konsisten. Sedangkan di masyarakat, murid menerapkan kebiasaan tersebut dalam pergaulan sosial, menumbuhkan sikap saling menghormati dan toleransi. Inilah yang disebut Lickona sebagai whole-school approach to character education, di mana seluruh ekosistem sekolah terlibat dalam pembentukan karakter. Sehingga keteladanan orang dewasa menjadi kunci agar pembiasaan ini tidak sekadar menjadi slogan dan aturan, melainkan akan berkembang menjadi sebuah budaya.

Dalam konteks pendidikan Indonesia, pembiasaan ini sejalan dengan nilai-nilai budaya bangsa dan tujuan pendidikan nasional. Praktik sederhana tersebut membantu membentuk siswa yang berakhlak mulia, santun, dan bertanggung jawab. Pembiasaan ini juga merupakan inti dan esensi dari penguatan karakter. Menurut Lickona, karakter yang baik mencakup tiga komponen utama, moral knowing (mengetahui yang baik), moral feeling (merasakan yang baik), dan moral action (melakukan yang baik). Pengucapan permisi, maaf, dan terima kasih berada pada ranah moral action, karena murid tidak hanya memahami nilai kesopanan dan tanggung jawab, tetapi juga melakukannya secara langsung dalam interaksi sosial.

Sebagai pembanding lintas negara, di Australia, pembiasaan pengucapan exuce me, sorry dan thank you merupakan bagian penting dari pendidikan karakter dan budaya sosial. Ketiga ungkapan ini tidak diposisikan sebagai aturan formal semata, tetapi sebagai nilai dasar kesopanan dan penghormatan yang ditanamkan sejak usia dini dan dipraktikkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

Pembiasaan ini ditanamkan sejak Pendidikan Anak Usia Dini. Di tingkat Early Childhood Education and Care (ECEC), anak-anak Australia diperkenalkan 3 magical words melalui interaksi harian guru–anak, lagu, cerita, dan permainan peran serta penguatan positif ketika anak menggunakannya secara tepat. Sementara di sekolah dasar dan menengah, 3 magical words menjadi bagian dari budaya sekolah (whole school culture) melalui school values (respect, responsibility, kindness), tata tertib dan ekspektasi perilaku (behaviour expectations), dan poster dan slogan sekolah, semisal Use your manners atau Be respectful. Guru dituntut secara aktif memodelkan penggunaan excuse me, sorry, dan thank you agar anak belajar melalui pembiasaan bukan paksaan.

Sekolah-sekolah di Australia umumnya menggunakan positive behaviour support. Ketika siswa lupa atau tidak menggunakan ungkapan sopan, guru akan mengingatkan secara halus (gentle reminder), memberi contoh ulang kalimat yang tepat, dan mengajak refleksi singkat, bukan menghukum. Pendekatan dengan metode ini menekankan kesadaran internal, bukan kepatuhan karena ketakutan.

Penutup

Penguatan karakter murid Indonesia seperti halnya praktik baik di Australia tidak selalu membutuhkan program besar dan kompleks. Melalui pembiasaan pengucapan permisi, maaf, dan terima kasih, penguatan karakter murid Indonesia dapat dihidupkan dalam tindakan nyata sehari-hari. Pembiasaan 3 magical words ini akan berkontribusi dan berdampak pada lingkungan sekolah yang aman dan inklusif, hubungan guru – siswa yang saling menghormati, rendahnya konflik interpersonal dan bertumbuhnya karakter empati, tanggung jawab, dan rasa hormat. Tiga kata sederhana ini, jika diucapkan dengan kesadaran dan konsistensi, mampu membentuk generasi yang santun, empatik, dan berkepribadian kuat. Sebuah fondasi penting bagi masa depan bangsa.

Artikel ini dipublikasi di Harian Jawa Pos, 5 Januari 2026.

Leave a comment