Artikel ini telah dipublikasikan pada tanggal 19 November 2025 di Harian Media Indonesia.
Sepintas judul diatas terlihat seperti rangkaian kalimat biasa yang melibatkan murid, guru dan sekolah sebagai subyek dengan atributnya masing-masing. Coba bayangkan sebuah sekolah dimana murid datang dengan senyum cerah, guru mengajar dengan semangat, dan suasana sekolah hangat penuh suka. Itulah gambaran sekolah yang nyaman menyenangkan, tempat dimana belajar bukan sebagai beban, tetapi pengalaman yang menggembirakan. Namun, suasana seperti ini tidak muncul begitu saja. Dua hal penting menjadi fondasinya, kesehatan mental murid dan kesejahteraan psikologis guru. Ketika keduanya berjalan seimbang dan saling mendukung, sekolah menjadi ruang yang hidup, aman, dan penuh energi positif.
Salah satu policy brief WHO di tahun 2023, How school systems can improve health and well-being: topic brief: mental health, menyatakan bahwa kesehatan mental murid dan kesejahteraan psikologis guru sangat terkait dengan hasil pendidikan. Murid yang sehat secara mental biasanya lebih mampu belajar, berinteraksi sosial, dan berkembang. Guru dengan kesejahteraan psikologis yang baik mampu mendukung kesehatan mental murid. Guru yang stabil secara emosional dapat menciptakan suasana kelas yang positif, aman, dan penuh empati. Lingkungan belajar semacam ini penting bagi perkembangan emosional dan sosial murid.
Interaksi positif keduanya akan memperkuat kedua pihak. Ketika murid menunjukkan kemajuan dan kebahagiaan belajar, guru merasa pekerjaannya bermakna, sehingga meningkatkan kesejahteraan psikologis mereka. Sebaliknya, guru yang bahagia menjadi model positif sekaligus role model bagi murid.
Kesehatan Mental Murid
Banyak referensi menyebutkan kesehatan mental murid mencakup kemampuan untuk mengelola emosi, menjalin hubungan sosial, serta menghadapi tekanan akademik dan sosial dengan cara yang adaptif. Berbagai faktor menjadi penyebabnya, manakala tidak dikelola dengan baik berpotensi menurunkan derajat kesehatan mental murid. Tekanan akademik dan ekspektasi tinggi, baik dari orang tua maupun guru, sering menjadi penyebab utama ketidaknyamanan murid di sekolah. Penyebab lain, hubungan sosial dengan teman sebaya yang tidak sehat (bullying, perundungan, dan isolasi sosial). Semakin jamak terjadi di beberapa sekolah belakangan hari ini. Berikutnya, lingkungan belajar di sekolah yang tidak mendukung dan terlalu menekan. Berbagai referensi juga menyebut banyak faktor yang memengaruhi kesehatan mental murid diantaranya, dukungan emosional dari guru dan teman sebaya, rasa aman di lingkungan sekolah, keseimbangan antara tuntutan akademik dan kegiatan sosial, serta penerimaan diri dan penghargaan terhadap keberagaman. Mitigasi dan penyelesaian berbagai faktor penyebab dimaksud diyakini akan meningkatkan kualitas kesehatan mental murid.
Murid dengan kesehatan mental yang baik akan menunjukkan motivasi belajar tinggi, perilaku positif, dan kemampuan mengatasi stres akademik. Murid yang sehat secara mental akan lebih percaya diri dan mampu mengelola emosi serta tekanan akademik dengan baik.Sebaliknya, murid dengan kesehatan mental rendah seringkali mengalami gangguan mental seperti kecemasan dan depresi yang pada akhirnya dapat menyebabkan penurunan prestasi dan perilaku maladaptif.
Kesejahteraan Psikologis Guru
Masih banyak terjadi miskonsepsi di masyarakat manakala kesejahteraan guru ditafsirkan hanya sebatas kesejahteraan finansial saja. Sudah saatnya kesejahteraan guru juga dicermati dari dimensi non-finansial. Faktanya, meski sebagian besar guru sudah merasa sejahtera secara finansial tetapi banyak pula yang mengalami permasalahan pada kondisi mental, emosional, dan spiritual dalam menjalankan profesinya. Ini mencakup perasaan puas, bahagia, dan mampu mengelola stres dalam lingkungan kerja, sehingga guru dapat berfungsi secara optimal dalam mengajar dan mendidik murid.
Kesejahteraan psikologis guru merujuk pada kondisi dimana guru merasa bahagia, bermakna, dan mampu mengelola tuntutan profesinya secara efektif. Di era teknologi saat ini, kesejahteraan psikologis guru menjadi hal penting karena berpotensi mempengaruhi kualitas pengajaran, kepuasan kerja, dan keseimbangan emosional. Guru yang memiliki kesejahteraan psikologis baik cenderung lebih efektif mengajar dan memiliki kemampuan mengelola emosi dan stress lebih baik. Mereka pun cenderung lebih empatik, sabar, dan inovatif dalam mengajar. Sebaliknya, guru yang memiliki kesejahteraan psikologis rendah cenderung mengalami tekanan emosional, beban kerja berlebihan, kurang mendapat penghargaan, sering kehilangan motivasi, mudah lelah, dan sulit menciptakan suasana kelas yang menyenangkan.
Mutualisma Kesehatan Mental Murid dan Kesejahteraan Psikologis Guru
Hubungan antara murid dan guru bukan sekadar hubungan akademik, melainkan hubungan kemanusiaan. Sementara hubungan antara kesehatan mental murid dan kesejahteraan psikologis guru bersifat interdependen. Keduanya saling bergantung, menguatkan, dan memengaruhi dalam siklus yang berkesinambungan. Murid yang sehat mentalnya akan lebih aktif, sopan, dan menghargai guru, sehingga menumbuhkan kepuasan batin bagi guru. Sedangkan guru yang bahagia cenderung mengajar dengan cara yang lebih menyenangkan dan mendukung murid secara emosional. Hubungan positif ini akan menciptakan lingkungan sekolah yang hangat, penuh empati, dan inklusif, di mana setiap individu merasa dihargai dan diterima.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa murid yang mengalami masalah mental dapat meningkatkan stres guru. Guru sering menghadapi tantangan dalam menangani murid dengan perilaku bermasalah atau emosional tidak stabil. Seringkali menimbulkan emotional exhaustion (kelelahan emosional) dan menurunkan kesejahteraan psikologis guru.
Iklim Sekolah Nyaman Menyenangkan
Sekolah bukan hanya tempat untuk belajar akademik, tetapi juga ruang tumbuh bagi kesehatan mental, emosi, dan karakter seluruh warga sekolah. Sekolah merupakan ekosistem sosial tempat berlangsungnya interaksi dinamis antara guru dan murid. Di sekolah, kualitas hubungan antara keduanya tidak hanya menentukan keberhasilan proses belajar-mengajar, tetapi juga berpengaruh pada kondisi psikologis masing-masing. Dalam konteks ini, kesehatan mental murid dan kesejahteraan psikologis guru memiliki hubungan timbal balik yang saling memengaruhi. Ketika murid mengalami masalah mental seperti stres, kecemasan, atau depresi, kondisi tersebut dapat menimbulkan beban emosional tambahan bagi guru. Sebaliknya, guru yang memiliki kesejahteraan psikologis baik cenderung mampu menciptakan lingkungan belajar yang suportif, yang dapat meningkatkan kesehatan mental murid.
Karenanya, menjaga kesejahteraan psikologis guru sama pentingnya dengan menjaga kesehatan mental murid. Jika keduanya berjalan seimbang, sekolah akan menjadi tempat yang bukan hanya mencerdaskan, tetapi juga menumbuhkan kebahagiaan. Kesehatan mental murid dan kesejahteraan psikologis guru merupakan dua sisi mata uang yang tak terpisahkan dalam menciptakan lingkungan sekolah yang nyaman menyenangkan. Ketika murid merasa aman, diterima, dan bersemangat belajar, serta guru merasa dihargai dan sejahtera secara emosional, maka sekolah akan menjadi tempat yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga menumbuhkan kebahagiaan.
Untuk membuat suasana nyaman menyenangkan, sekolah perlu menjaga keseimbangan antara kesehatan mental murid dan kesejahteraan psikologis guru. Sekolah bisa menciptakannya dengan menjalankan beberapa langkah konkrit. Pertama, menyusun program dukungan psikologis melalui layanan konseling, pelatihan manajemen stres, dan peer support. Kedua, meningkatkan kompetensi sosial-emosional guru, melalui pelatihan Social Emotional Learning (SEL). Ketiga,
menerapkan kebijakan keseimbangan beban kerja, agar guru tidak hanya fokus pada administrasi tetapi juga pada relasi interpersonal dengan murid. Keempat, menciptakan budaya sekolah yang empatik dan inklusif, yang menekankan saling pengertian antara guru, murid, dan orang tua.
Kebijakan Berbasis Kebutuhan
Menjawab tantangan kebutuhan tersebut, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), melalui Direktorat Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus mengimplementasikan beberapa kebijakan dan program terkait. Salah satunya, Pengembangan Kompetensi Bimbingan Konseling (BK) dan ke-BK-an. Mengandalkan 7 Jurus BK Hebat-nya, program ini memberikan ruang dialog konseling lebih luas bagi murid dengan semua guru, tidak hanya guru BK. Harapannya berujung pada peningkatan kesehatan mental murid.
Menggunakan pendekatan teacher wellbeing, sedang dikembangkan juga program kesejahteraan psikologis guru. Sasaran utama program ini adalah guru dengan capaian skor rendah berbasis pada data hasil Survey Lingkungan Belajar di Asesmen Nasional. Melalui penyusunan modul-modul, pelaksanaan survey dan bimbingan teknis, besar harapan terjadi peningkatan kesejahteraan psikologis guru dimaksud.
Sementara itu, untuk menciptakan iklim sekolah nyaman menyenangkan, Kemendikdasmen mengenalkan Budaya Belajar Aman, Nyaman, dan Gembira. Sebuah kultur perwujudan budaya belajar yang sehat, aman, bebas dari segala bentuk kekerasan, dan inklusif untuk mendukung tumbuh kembang murid secara utuh dengan pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, serta menggembirakan.

Leave a comment