Staf Ahli Menteri Membuka BIMTEK Calon Fasilitator Nasional Matematika Gembira Angkatan Kedua

DIUNGGAH PADA

Makassar, 9 September 2025 – Staf Ahli Menteri Bidang Teknologi Pendidikan Kemendikdasmen, Moch. Abduh, Ph.D., secara resmi membuka kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Calon Fasilitator Nasional Matematika Gembira Angkatan Kedua. Acara yang digelar di Makassar ini dihadiri oleh Kepala Balai Besar Guru Tenaga Kependidikan (BBGTK) Provinsi Sulawesi Selatan, Ketua Tim Kerja Pembelajaran, Penghargaan dan Kesejaterahan Direktorat Guru Pendidikan Dasar dan beberapa narasumber.

Dalam sambutannya, Staf Ahli Menteri menekankan bahwa stigma dan mitos matematika sebagai pelajaran yang sulit dan rumit masih menjadi persoalan serius. “Fenomena ini sering membuat guru memilih jalan pintas dengan memberikan tugas tanpa mengajarkan materi sulit secara langsung. Akibatnya, hak siswa untuk memahami konsep matematika yang lebih baik tidak terpenuhi,” ujar beliau.

Gerakan Numerasi Nasional

Sebagai langkah konkret untuk menghilangkan stigma dan mitos dimaksud, Kemendikdasmen meluncurkan Gerakan Numerasi Nasional pada 19 Agustus lalu, yang salah satu implementasinya adalah program Matematika Gembira. Program ini bertujuan menghadirkan pembelajaran matematika yang lebih menyenangkan dan bermakna.

“Selain Bimtek, Kemendikdasmen juga mengembagkan inovasi seperti Taman Numerasi di satuan pendidikan maupun Unit Pelaksana Teknis (UPT) sebagai bagian dari Gerakan Numerasi Nasional. Berbagai ikhtiar ini merupakan upaya membumikan filosofi pembelajaran matematika yang lebih kontekstual dan bermakna.” tambah Staf Ahli Menteri.

Learn, Unlearn, dan Relearn

Mengutip pemikiran futuris Alvin Toffler dalam Future Shock (1970), Moch. Abduh, Ph.D., menjelaskan bahwa mereka yang tidak berliterasi pada abad 21 bukan sekadar mereka tidak bisa membaca atau menulis, melainkan mereka yang memiliki ketidakmampuan untuk belajar (learn), melepaskan cara lama (unlearn), dan mempelajari ulang (relearn).

“Yang dimaksud unlearn bagi seorang guru adalah proses pemahaman hal yang lebih baru. Karena guru adalah pembelajar sepanjang hayat, jika ada pendekatan baru yang terbukti lebih bermanfaat, maka cara lama yang tidak efektif harus ditinggalkan,” jelas beliau.

Menghadirkan Pembelajaran Bermakna

Staf Ahli Menteri juga menyoroti temuan Bank Dunia tahun 2022 yang menyebut fenomena schooling without learning— kondisi di mana siswa datang ke sekolah, tetapi tidak mengalami proses pembelajaran yang sesungguhnya.

“Pembelajaran kita sering kali hanya berorientasi pada target kurikulum dan ujian. Padahal yang dibutuhkan adalah pembelajaran mendalam. Pembelajaran yang berkesadaran dan relevan, sesuai dengan kehidupan sehari-hari, dan menyenangkan” tegas beliau.

Matematika Gembira dan yang Menggembirakan

Suasana pembukaan sendiri berlangsung penuh canda.

Saya dan Pak Arman duduk bersebelahan
Bu Nita duduk di sebelah kanan
Siapa bilang matematika itu sulit dan menyulitkan
Matematika itu gembira dan menggembirakan

Pantun itu diucapkan beliau yang disambut gelak tawa peserta. Ia bahkan menambahkan gurauan ringan, “Kalau tadi kata matematika itu mematikan, tapi ternyata bisa juga mengantarkan Pak Arman menjadi Kepala BBGTK Provinsi Sulawesi Tengah.”

Dengan adanya Gerakan Numerasi Nasional, Staf Ahli Menteri berharap paradigma pembelajaran matematika dapat berubah. Matematika tidak lagi dipandang sebagai momok yang menakutkan, tetapi sebagai ilmu yang menyenangkan serta mampu membangun logika berpikir siswa.

“Melalui semangat learn, unlearn, dan relearn, guru dapat menjadi agen perubahan dalam menghadirkan pembelajaran matematika yang gembira dan menggembirakan,” pungkas beliau.

Leave a comment