Artikel ini ditulis pada 01/08/2025 dan telah dicetak pada majalah Matan Edisi 229.
Pada tahun tahun 2022, Bank Dunia merilis sekitar 60% anak-anak di negara berkembang tidak mencapai tingkat profisiensi dalam membaca, menulis, dan matematika, meskipun faktanya mereka bersekolah. Laporan ini juga menyoroti kenyataan bahwa meskipun banyak negara telah meningkatkan lama waktu belajar dan akses ke pendidikan formal, sebagian besar siswa belum mencapai tingkat kompetensi dasar yang diharapkan. Hampir setiap hari murid pergi ke sekolah, menghabiskan waktu berjam-jam di kelas, namun tidak menunjukkan hasil pembelajaran yang bermakna.
Fenomena ini dikenal sebagai “schooling without learning”, bersekolah tanpa terjadi pembelajaran. Sebuah tantangan serius yang dihadapi banyak sistem pendidikan di dunia. Bukan berarti tidak ada aktivitas di sekolah, sebaliknya, banyak sekali kegiatan, kurikulum yang padat, dan ujian yang berulang. Kenyataannya, esensi pembelajaran yang sesungguhnya yaitu pemahaman mendalam, pengembangan keterampilan, dan penerapan pengetahuan seringkali terabaikan.
Tafsir Schooling Without Learning
Schooling without learning adalah kondisi ketika fokus pendidikan bergeser dari proses pembelajaran yang mendalam disertai pemahaman konsep menjadi hanya sekadar penyelesaian kurikulum dan pencapaian target nilai. Murid mungkin mampu menghafal fakta, rumus, atau definisi, tetapi tidak benar-benar memahami makna di balik pembelajaran tersebut. Apalagi menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran menjadi dangkal karena siswa hanya mengingat informasi tanpa disertai pemahaman memadai.
Tekanan penyelesaian kurikulum dan pencapaian nilai seringkali mengalahkan tujuan pembelajaran sesungguhnya, sehingga proses belajar sangat terfokus pada hasil evaluasi semata. Materi pelajaran pun terasa kurang relevan karena tidak terhubung dengan konteks kehidupan, membuat mereka sulit melihat manfaat praktis dari pembelajaran yang diperoleh. Keterampilan abad ke-21 –kreativitas, berpikir kritis, kemampuan berkolaborasi, dan komunikasi seringkali kurang mendapat perhatian seharusnya. Wal hasil, motivasi belajar siswa menurun, menimbulkan kebosanan dan kurang termotivasi untuk mengikuti proses pembelajaran aktif.
Schooling Without Learning di Indonesia
Pada tahun 2018, RISE‑SMERU melaporkan meski akses ke sekolah meningkat, capaian pembelajaran literasi dan numerasi masih rendah dan stagnan. Indikator lain menunjukkan sebagian murid lulusan SMA kesulitan menjawab soal-soal matematika dasar sederhana yang seharusnya dikuasai murid SD.
Salah satu faktor penyebab schooling without learning adalah kurikulum yang padat dan hanya berorientasi pada konten. Seringkali kurikulum dirancang untuk mencakup terlalu banyak materi. Guru terpaksa mengejar target tanpa memiliki waktu cukup untuk mendalami setiap topik secara menyeluruh.
Metode pengajaran tradisional masih dominan digunakan, pendekatan ceramah satu arah, menyebabkan partisipasi aktif siswa menjadi berkurang dan pembelajaran menjadi kurang efektif. Sistem evaluasi yang keliru juga turut berkontribusi, penilaian yang dilakukan terlalu fokus pada nilai hasil akhir. Ini membuat siswa cenderung mencari jawaban yang benar tanpa berusaha memahami konsep secara mendalam.
Menyikapi Schooling Without Learning
Penyelesaian schooling without learning memerlukan pendekatan holistik dan kolaboratif berbagai pihak terkait. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menyikapinya dengan mengembangkan pendekatan Pembelajaran Mendalam (PM). PM bertujuan untuk mendorong pengembangan keterampilan berpikir tingkat tinggi, penerapan pengetahuan dalam konteks dunia nyata, serta pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.
Melalui pembelajaran berkesadaran, murid diajak hadir secara penuh dalam setiap aktivitas belajar. Pendekatan ini menegaskan pentingnya sinkronisasi antara pikiran, perasaan, dan tindakan, sebagaimana diajarkan Ki Hajar Dewantara melalui sistem among berbasis nilai asah, asih, dan asuh. Pembelajaran bermakna terjadi ketika materi ajar dapat dihubungkan dengan pengalaman nyata murid. Pembelajaran bermakna mendorong murid untuk terlibat secara aktif dalam proses belajar, baik melalui diskusi, proyek kolaboratif, atau eksplorasi mandiri.
Keterlibatan murid membuat pembelajaran lebih menarik dan efektif. Pembelajaran bermakna dapat meningkatkan pengalaman pendidikan secara keseluruhan dan membantu siswa menjadi pembelajar sepanjang hayat. Pembelajaran menyenangkan memungkinkan adanya kombinasi antara motivasi intrinsic, yakni keinginan untuk belajar karena rasa ingin tahu dan kepuasan pribadi dengan pengalaman yang menyenangkan. Hal ini dapat menciptakan suasana yang mendorong siswa untuk lebih terlibat, kreatif, dan antusias dalam proses pembelajaran.
PM diharapkan menjadi fondasi pendidikan yang kuat dalam rangka menciptakan ekosistem pendidikan kondusif dan berdaya saing global. Karenanya penerapan PM perlu didukung oleh ekosistem pembelajaran kondusif, kemitraan pembelajaran luas dan bermakna, dan pemanfaatan teknologi digital efektif. Semata agar terwujud belajar penuh kesadaran dan perhatian, bermakna dan relevan, serta belajar dengan gembira, antusias dan semangat. Ekosistem pembelajaran seperti ini diyakini mampu menciptakan pembelajaran yang sesungguhnya betul-betul terjadi di dalam kelas dan sekolah.

Leave a comment