Palembang, 23 Juni 2025 — Ir. Moch. Abduh, MS.Ed., Ph.D., Staf Ahli Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bidang Teknologi Pendidikan, didaulat memberikan arahan sekaligus membuka secara resmi kegiatan Advokasi Implementasi G7 KAIH yang diselenggarakan oleh Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Sumatera Selatan. Acara ini melibatkan Unit Pelaksana Teknis (UPT), Dinas Pendidikan kabupaten/kota, serta Tim Pembina Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), dan berlangsung di Hotel Beston, Palembang.
Dalam arahannya, Ir. Moch. Abduh, MS.Ed., Ph.D. menekankan pentingnya arah kebijakan pendidikan nasional yang selaras dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan masa depan. Ia juga menyampaikan materi tentang kebijakan pembelajaran koding dan kecerdasan artifisial (KA) sebagai bagian dari turunan program prioritas Kemendikdasmen yang bertujuan membekali generasi muda dengan kompetensi abad ke-21.
“Anak-anak yang kita didik hari ini, satu dekade ke depan akan mengisi posisi-posisi strategis di berbagai sektor kehidupan. Ketersediaan angkatan kerja produktif ini merupakan peluang besar yang, bila dikelola dengan baik, dapat menjadi bonus demografi dan mengantarkan kita menuju Indonesia Emas 2045,” ujarnya.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa bonus demografi hanya akan menjadi berkah apabila generasi muda dipersiapkan dengan pendidikan yang bermakna, mendalam, dan relevan dengan kebutuhan zaman.
“Tanpa kompetensi yang memadai, mereka hanya akan menambah jumlah usia kerja tanpa daya saing. Jika itu yang terjadi, kita tidak akan menuju Indonesia Emas, melainkan justru berhadapan dengan risiko Indonesia Cemas,” tambahnya.
Dalam paparannya, Staf Ahli Menteri juga mengangkat isu strategis terkait pesatnya perkembangan kecerdasan artifisial di tingkat global. Dunia saat ini tengah berlomba-lomba mengembangkan teknologi KA yang mampu mengolah dan mengkolaborasikan data dalam skala besar, menghasilkan produk-produk digital yang unik dan berkualitas dalam waktu singkat.
Untuk memberikan gambaran konkret, ia menunjukkan sebuah karya cipta berbasis kecerdasan artifisial dalam bentuk video singkat yang menampilkan sosok avatar perempuan yang tampak nyaris seperti manusia nyata, baik dari segi visual maupun suara. Dalam simulasi tersebut, avatar tampak berdialog langsung dengannya.
“Perempuan dalam video ini bukanlah manusia nyata, melainkan visualisasi hasil dari rangkaian prompt atau perintah teks yang sederhana. Cukup dengan menjabarkan imajinasi kita ke dalam kalimat, teknologi dapat menghasilkan visual yang sangat meyakinkan,” jelasnya.
Ia juga menyoroti munculnya berbagai persepsi keliru di masyarakat mengenai kecerdasan artifisial—mulai dari kekhawatiran bahwa KA akan mengambil alih dunia, hingga kepercayaan berlebihan bahwa KA selalu benar dan tidak bisa salah.
“Faktanya, kecerdasan artifisial bekerja sesuai dengan deskripsi dan instruksi yang kita berikan. Ia tidak memiliki kehendak, moral, atau akal sehat. Kontrol sepenuhnya tetap berada di tangan manusia,” tegasnya.

Leave a comment