Mendalami Pembelajaran Mendalam (Deep Learning)*

PENULIS

DIUNGGAH PADA

Artikel ini ditulis pada 12/03/2025

Tidak ada yang memungkiri bahwa momentum Bonus Demografi 2035 dan visi Indonesia Emas 2045 merupakan tantangan sekaligus peluang besar bagi sistem pendidikan di Indonesia. Diproyeksikan jumlah penduduk usia produktif atau 15–64 tahun di Indonesia mencapai puncaknya, memunculkan peluang kontribusi ekonomi yang signifikan, dengan syarat Indonesia mampu menyiapkan ketersediaan tenaga kerja yang kompeten, produktif, kompetitif, kreatif, dan adaptif. Pada konteks itu, peran pendidikan menjadi sangat strategis untuk memastikan setiap lulusan tidak hanya siap secara hard skill, tetapi juga memiliki soft skills, karakter, dan kemampuan berpikir kritis. Karenanya Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemdikdasmen) perlu segera menyiapkan inisiatif dan terobosan kreatif untuk mewujudkan Pendidikan Bermutu Untuk Semua melalui berbagai pendekatan pembelajaran, salah satunya pendekatan Deep Learning. Kemdikdasmen mengenalkannya sebagai Pembelajaran Mendalam (PM).

Sebagaimana labelnya sebagai sebuah pendekatan pembelajaran, PM tidak bisa dideklarasikan sebagai sebuah kurikulum. Faktanya masih ada lapisan masyarakat yang menyimpulkan PM adalah kurikulum baru sebagai pengganti Kurikulum Merdeka. PM adalah pendekatan pembelajaran yang dirancang sebagai jawaban tantangan krisis pembelajaran dan kebutuhan pembelajaran di abad 21. Pun juga, PM bukan pendekatan pembelajaran baru dalam sistem pendidikan Indonesia. Sebelumnya pernah digulirkan pendekatan pembelajaran yang mirip PM, yaitu Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA), Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif dan Menyenangkan (PAKEM), Pembelajaran Aktif Inovatif Kreatif Efektif dan Menyenangkan (PAIKEM), dan Contextual Teaching and Learning (CTL).

Yang menjadi pembeda dengan pendekatan pembelajaran sebelumnya, PM bertujuan untuk mendorong pengembangan keterampilan berpikir tingkat tinggi, penerapan pengetahuan dalam konteks dunia nyata, serta pembelajaran yang berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan (joyful). Dalam tataran implementasi, diharapkan  PM menjadi fondasi pendidikan yang kuat bagi bangsa Indonesia dalam rangka menciptakan ekosistem pendidikan yang kondusif dan berdaya saing global.

Mindful

Pembelajaran mindful (berkesadaran) adalah pendekatan yang mengintegrasikan prinsip-prinsip mindfulness (kesadaran penuh) ke dalam proses belajar. Konsep ini bertujuan untuk mengembangkan kesadaran dan perhatian yang lebih besar dalam kegiatan belajar, baik bagi guru maupun murid. PM menekankan bahwa pembelajaran bukan sekadar transfer ilmu, melainkan penciptaan suasana yang memuliakan murid. Filosofi ini berlandaskan pandangan pendidikan holistik yang mengedepankan keseimbangan antara aspek intelektual, emosional, spiritual, dan fisik.

Melalui pembelajaran berkesadaran, murid diajak untuk hadir secara penuh dalam setiap aktivitas belajar. Pendekatan ini menegaskan pentingnya sinkronisasi antara pikiran, perasaan, dan tindakan, sebagaimana diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara melalui sistem among yang berbasis nilai asah, asih, dan asuh. Dengan kesadaran penuh, murid diajak memahami bahwa belajar adalah proses refleksi mendalam yang melibatkan penerimaan terhadap keragaman perspektif dan komitmen untuk terus berkembang.

Meaningful

Pembelajaran meaningful (bermakna) adalah pendekatan yang menekankan pentingnya membuat koneksi yang relevan dan signifikan antara materi pelajaran dengan pengalaman dan pengetahuan murid. Bertujuan untuk menciptakan pemahaman yang lebih dalam dan tahan lama, serta mendorong keterlibatan aktif murid. Pembelajaran bermakna terjadi ketika murid dapat mengaitkan informasi baru dengan pengetahuannya yang akhirnya membentuk pemahaman yang mendalam pada sebuah konsep.

Pembelajaran meaningful terjadi ketika materi ajar dapat dihubungkan dengan pengalaman nyata murid. Ini membantu murid memahami konteks dan relevansi dari apa yang mereka pelajari. Dalam pembelajaran bermakna, murid didorong untuk terlibat secara aktif dalam proses belajar, baik melalui diskusi, proyek kolaboratif, atau eksplorasi mandiri. Keterlibatan ini membuat pembelajaran lebih menarik dan efektif. Pembelajaran meaningful dapat meningkatkan pengalaman pendidikan secara keseluruhan dan membantu siswa menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Joyful

Pembelajaran (joyful) menyenangkan adalah pendekatan pembelajaran yang berfokus pada penciptaan pengalaman belajar yang menyenangkan, positif, dan penuh kegembiraan bagi murid. Pendekatan ini menekankan pentingnya rasa suka cita dalam proses belajar, sehingga murid tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga menikmati setiap tahapannya.

Ciri khas dari pembelajaran menyenangkan adalah kombinasi antara motivasi intrinsik (keinginan untuk belajar karena rasa ingin tahu dan kepuasan pribadi) dengan pengalaman yang menyenangkan. Hal ini dapat menciptakan suasana yang mendorong siswa untuk lebih terlibat, kreatif, dan antusias dalam proses pembelajaran.

Sebagai sebuah pendekatan pembelajaran, Kemdikdasmen mendefinisikan PM sebagai pendekatan yang memuliakan dengan menekankan pada penciptaan suasana belajar dan proses pembelajaran berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan melalui olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga secara holistik dan terpadu. Karenanya penerapan PM pada setiap jenjang pendidikan perlu didukung oleh ekosistem pembelajaran yang kondusif, kemitraan pembelajaran yang luas dan bermakna, dan pemanfaatan teknologi digital yang efektif agar terwujud belajar penuh kesadaran dan perhatian, bermakna dan relevan, serta belajar dengan gembira, antusias dan semangat.

Tulisan ini juga dimuat pada Majalah Matan edisi 225.

*) Moch. Abduh, Ph.D

Staf Ahli Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bidang Teknologi Pendidikan

Leave a comment