Apakah proses pembelajaran selalu di dalam kelas? Apakah pembelajaran senantiasa berbatas dimensi ruang dan waktu? Jawabannya, proses pembelajaran dapat terselenggara dimanapun, kapanpun dan dengan siapapun. Faktanya, banyak sekali proses pembelajaran berhasil terselenggara dengan baik terjadi di luar kelas. Pembelajaran pun tidak hanya terjadi pada ranah kognitif semata, juga terselenggara pada domain soft skill. Pembelajaran tidak hanya terjadi pada area pendidikan. Haqqul yakin pembelajaran juga terjadi di area lain semisal di peribadatan keagamaan.
Teknologi pembelajaran adalah metode ilmiah yang digunakan untuk mencapai tujuan praktis ilmu pengetahuan. Adopsi dan adaptasi teknologi pembelajaran pada konteks peribadatan di Raudhah, Masjid Nabawi, Madinah, ternyata membawa perubahan besar pada manajemen pengelolaannya. Raudhah merupakan area yang terletak di antara makam Rasululloh SAW dan mimbar. Sebelumnya, kesempatan memasuki Raudhah dibatasi berdasarkan gender dan rentang waktu yang ditetapkan. Akibatnya pada rentang waktu tersebut, jemaah akan berebut, berjubel dan berdesakan ketika memasukinya, beribadah di dalamnya maupun ketika keluar selesai beribadah. Beyond that, kondisi tersebut berpotensi membuat jemaah merasa was-was, kurang aman dan nyaman, pun barangkali kurang khusuk saat menjalankan ibadahnya.
Sejak beberapa waktu lalu, Kementerian Haji dan Umroh Arab Saudi memberlakukan sejumlah aturan baru dalam kegiatan ibadah dan ziarah di musim haji dan umroh. Salah satunya kewajiban mengajukan permintaan ijin melalui aplikasi e-Haj atau Eatmarna untuk memasuki Raudhah dan makam Nabi. Secara harfiah Eatmarna artinya “mari menunaikan umrah”. Pada awalnya dikembangkan untuk mengelola kunjungan selama COVID-19, ketika ketentuan jarak sosial diberlakukan. Keberhasilan aplikasi dalam memastikan akses yang sama untuk semua jamaah dan memberikan pengalaman yang baik, aman dan lancar membuat Kementerian Haji dan Umroh lanjut menggunakannya setelah pencabutan pembatasan aturan COVID-19.
Jemaah yang akan masuk ke Raudhah diatur sedemikian rupa menggunakan sistem teknologi digital. Sebelum memasuki Raudhah, jemaah harus mendaftar atau mengajukan permintaan melalui aplikasi. Jemaah yang ingin masuk ke Raudhah secara berkelompok harus sesuai dengan jadwal yang sudah tersedia dalam aplikasi Eatmarna. Dalam aplikasi tersebut sudah ditetapkan jadwal kunjungan travel penyelenggara umroh. Jemaah mandiri juga bisa menggunakan aplikasi Eatmarna yang diunduh melalui ponsel pribadi. Tertera waktu kunjungan serta pintu masuk mana yang harus digunakan. Dengan Eatmarna semua data jemaah akan mudah di-update sehingga jemaah akan mendapatkan kemudahan dan perbaikan pelayanan ibadah berbasis teknologi. Melalui Eatmarna, jemaah harus mengajukan izin (tasreh). Tidak ada yang diizinkan untuk melakukan umrah dan mengunjungi Raudhah kecuali setelah mendaftar di aplikasi Eatmarna. Selanjutnya jemaah harus menentukan waktu kapan ingin memasuki Raudhah. Sampai tulisan ini dibuat, jumlahnya dibatasi hanya 6 ribu orang per hari, itupun dilakukan dalam periode terbatas.
Aplikasi Eatmarna dilengkapi dengan indikator warna yang menunjukkan status keramaian dan kepadatan jemaah. Fitur ini membantu jamaah memilih waktu yang tepat untuk berkunjung sekaligus menghindari titik kerumunan dan keramaian. Warna abu-abu menunjukkan tidak tersedianya waktu pemesanan sementara hijau menunjukkan sedikit ramai, oranye cukup ramai dan merah sangat ramai. Dengan adanya indikator warna ini jamaah bisa memilih waktu yang lebih tepat dan aman, serta mengindari kerumunan tinggi jamaah. Para pengunjung harus datang tepat waktu atau berisiko kehilangan slot waktu beribadah mereka.
Dilansir dari Saudi Gazette, Kementerian Dalam Negeri, Arab Saudi mengeluarkan peringatan bagi jemaah yang mencoba memasuki Raudhah tanpa tasreh atau tanpa izin akan dikenakan denda sebesar SR10.000 setara Rp.39 juta-an. Kementerian juga mengingatkan jemaah tentang perlunya mengikuti prosedur untuk memastikan keselamatan, kesehatan dan keamanan jemaah. Melalui penggunaan aplikasi tersebut, Pemerintah Kerajaan Arab Saudi serius untuk memfasilitasi penyelenggaraan ibadah berbasis teknologi digital dengan lebih baik, aman, nyaman dan lancar.
Terjadikah proses pembelajaran? Pembelajaran disana tidak terjadi pada domain kognitif, yang didefinisikan sebagai kemampuan yang mencakup kegiatan aktifitas otak untuk mengembangkan kemampuan rasional. Proses pembelajaran terselenggara pada ranah afektif, tepatnya kemampuan soft skill. Ranah afektif mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi dan nilai. Pada pelaksanaan ibadah umroh berbasis teknologi Eatmarna, pembelajaranpada ranah ini terselenggara dengan baik dan terekskalasi secara masif. Kemampuan dan kompetensi para jemaah semakin meningkat dan menjadi lebih baik. Indikatornya terlihat ketika terjadi peningkatan sikap dan perilaku para jemaah. Jemaah menjadi lebih sabar, tawakal, tawaddu’, khusu’, tertib, mengantri, menghargai sesama jemaah lain, memprioritaskan jemaah lain yang lebih membutuhkan, dan tidak memaksakan kehendak pribadi. INSYA ALLOH kondisi ini menghantarkan menjadi ibadah umroh yang mabrur. Amiin.-

Leave a comment