Kesalahan dan Kelemahan Calon Artikel Ilmiah di Jurnal Didaktika Pendidikan Dasar

PENULIS

DIUNGGAH PADA

Tulisan ini terinspirasi dari semakin terdeteksinya berbagai kesalahan dan kelemahan para penulis artikel ilmiah, khususnya yang berencana untuk diterbitkan di Jurnal Didaktika Pendidikan Dasar yang dikelola oleh Direktorat Guru Pendidikan Dasar, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi. Kesalahan dan kelemahan dimaksud sangat beragam, beberapa bersifat minor, namun tidak sedikit pula yang bersifat major. Tentu saja, kesalahan dan kelemahan minor berimplikasi pada kemudahan dan kecepatan penyelesaian revisi hasil review, sebaliknya kesalahan dan kelemahan major pasti menyebabkan penulis artikel ilmiah harus bersusah payah untuk menyelesaikan hasil masukan dari para reviewer. Himpunan kesalahan dan kelemahan artikel ilmiah ini merupakan hasil identifikasi dari para reviewer terhadap artikel ilmiah yang di-submit selama kurang lebih dua tahun terakhir.

Penggunaan kalimat “Calon Artikel Ilmiah” pada judul dimaksudkan bahwa berdasarkan data dan pengamatan dalam pengelolaan Jurnal Didaktika selama ini, artikel ilmiah yang dikirimkan ke pengelola Jurnal Didaktika tidak seluruhnya accepted dan betul-betul siap terbit. Masih diperlukan perbaikan dan penyempurnaan sebagaimana saran, masukan dan perbaikan dari para reviewer. Sering pula perbaikan dan penyempurnaan artikel ilmiah tidak selesai dalam 1 putaran (round 1), sehingga membutuhkan waktu 2 putaran (round 2) atau bahkan lebih, yang tentu saja berimplikasi pada jangka waktu penyelesaian artikel ilmiah menjadi lebih lama.

Beberapa kesalahan dan kelemahan yang sering terjadi dan pada akhirnya menyebabkan tertolaknya pemuatan artikel ilmiah dimaksud di Jurnal Didaktika, di antaranya sebagai berikut:

  1. Kesalahan dalam menentukan jenis penelitian. Seringkali artikel ilmiah yang seharusnya lebih tepat dikemas sebagai bentuk penelitian eksperimen (Research and Development = RD), tetapi disusun sebagai Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Belum banyak penulis artikel ilmiah yang memahami bahwa penelitian eksperimen adalah metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh dari perlakuan tertentu terhadap yang lainnya dalam kondisi yang terkendalikan. Beberapa penulis artikel ilmiah bahkan tampak belum mampu membedakan metode kuantitatif, kualitatif, RD dan PTK.
  2. Pada bagian pendahuluan seringkali ditemukan kurangnya kajian teori dan penelitian yang relevan. Hal ini dipastikan akan berdampak pada uraian dan penjelasan di bagian pembahasan menjadi dangkal, akibatnya sulit untuk dikategorikan sebagai artikel ilmiah yang baik. Pada beberapa kasus, selain teori yang digunakan tidak relevan, ditemukan pula beberapa artikel yang tidak mencantumkan kajian teori. 
  3. Pada bagian hasil, terutama untuk PTK, banyak artikel ilmiah yang hanya menyajikan dan menampilkan data berupa angka-angka perbandingan prasiklus, siklus 1, dan siklus 2. Eksplorasi terhadap data, termasuk pemaknaan terhadap perbandingan data/angka tersebut belum banyak dilakukan bahkan terkesan belum dianggap hal yang penting.
  4. Seringkali terjadi abstrak yang disusun tidak seluruhnya mengikuti pedoman penulisan. Beberapa abstrak artikel tidak menjelaskan permasalahan, sementara beberapa yang lain tidak mencantumkan kesimpulan. Terdapat pula beberapa abstrak artikel yang tidak menghadirkan keduanya.
  5. Beberapa penulis terindikasi lemah dalam merumuskan masalah, menetapkan tujuan penelitian dan menyajikan hasil penelitian, sehingga berdampak pada uraian hasil pada bagian pembahasan yang terkesan sekedarnya dan minimalis. Pada beberapa kasus, rendahnya kemampuan tersebut juga terjadi pada saat merunutkan antara teori, masalah penelitian, tujuan penelitian dan hasil serta kesimpulan penelitian.
  6. Cukup banyak artikel ilmiah yang masih kurang menggunakan referensi yang update, sekitar 10 tahun terakhir. Pun, pembahasan di sebagian artikel ilmiah tidak dianalisis dan diperkuat dengan pendapat para ahli atau merujuk pada hasil penelitian yang relevan sebelumnya. Beberapa artikel ilmiah juga tidak terlalu memperhatikan dan mempedulikan kebaruan (novelty) yang terjadi.
  7. Sistematika penulisan artikel ilmiah belum sepenuhnya mengikuti gaya selingkung dan template yang digunakan. Termasuk cara penulisan sitasi dengan benar sesuai citation style yang ditetapkan, baik pada isi tulisan maupun daftar pustaka. Terkesan para penulis artikel ilmiah kurang membaca dan teliti mencermati panduan dan pedoman Open Journal System (OJS) Didaktika yang ditetapkan. Akibatnya, penulis menjadi tidak paham tentang apa yang seharusnya diuraikan dan dijelaskan pada setiap bagian penulisan.
  8. Masih ditemukan penelitian yang dilakukan tidak dilengkapi dengan desain penelitian, instrumen, teknik pengumpulan data, dan teknik analisis data. Hasil penyajian data belum sepenuhnya merujuk pada instrumen dan tanggapan responden.
  9. Ketidak sesuaian antara tema artikel ilmiah dengan scope of Journal Didaktika, yang merupakan jurnal dengan karya ilmiah berkualitas tinggi dan inovatif terdepan dari semua ilmu pengetahuan dalam bentuk penelitian interdisipliner dan resensi buku di bidang pendidikan dasar. 
  10. Beberapa penulis artikel ilmiah belum mampu menggambarkan dan menguraikan hasil penelitiannya secara jelas dan informatif. Akibatnya pembahasan kurang ter-analisis dengan tajam dan komprehensif. Pada akhirnya, penulis tidak mampu menjawab masalah dan tujuan penelitian secara utuh dan komprehensif pada bagian kesimpulan.
  11. Meski sudah dijelaskan secara detail di panduan/pedoman, penulisan referensi pada daftar pustaka di beberapa artikel ilmiah masih berpola manual, belum sepenuhnya menggunakan Mendeley reference manager.
  12. Masih ditemukan kondisi beberapa artikel ilmiah tidak koheren antara masalah, hasil, dan kesimpulan. Juga penggunaan metode penelitian yang tidak jelas dan teknik pengumpulan dan pengolahan/ anaslis data yang kurang akurat.
  13. Beberapa referensi yang tertulis dalam daftar pustaka tidak semuanya ada dalam teks artikel. Begitupun sebaliknya, terdapat referensi pada badan teks yang tidak tercantum dalam daftar pustaka.
  14. Pada beberapa artikel ilmiah, ditemukan redaksi kalimat di kesimpulan sama persis dengan redaksi kalimat pada abstrak. Sudah seharusnya penulis memahami bahwa kesimpulan merupakan pernyataan singkat yang diperoleh dari metode berpikir secara induktif atau deduktif. Isi dari kesimpulan mencakup ringkasan dari suatu topik atau tema yang ditulis serta dianalisis oleh penulis. Redaksi kesimpulan disusun berdasarkan hasil analisis deskripsi, dan pembahasan tentang hasil pengetesan hipotesis yang dilakukan di bab sebelumnya. Kesimpulan juga harus berisi tentang jawaban atas pertanyaan/ pernyataan yang disebutkan sebelumnya pada bagian rumusan masalah.

Tentu saja, identifikasi kesalahan dan kelemahan yang sering terjadi di Jurnal Didaktika tidak boleh hanya berhenti sampai di tahap ini. Sekedar mengetahui asbabun nuzul, mengapa tulisan artikel ilmiahnya tertolak, tentu saja tidak cukup bagi penulis artikel ilmia. Ada harapan yang sangat tinggi manakala kesalahan dan kelemahan dimaksud menginspirasi para penulis “calon artikel ilmiah” untuk memahami, mencermati sekaligus menghindari terjadinya hal dimaksud. Pada akhirnya, artikel ilmiah yang akan diterbitkan di Jurnal Didaktika, merupakan artikel ilmiah yang berkualitas tinggi. Sehingga ikhtiar Jurnal Didaktika menjadi jurnal peer-review dan akses terbuka terkemuka, yang menerbitkan karya ilmiah berkualitas tinggi dan inovatif terdepan dari semua ilmu pengetahuan dalam bentuk penelitian interdisipliner dan resensi buku di bidang pendidikan dasar bisa kita wujudkan bersama. Semoga.

Artikel ini ditulis pada 17/11/2023 dan telah dipublikasikan pada laman gurudikdas.dikdasmen.go.id

Leave a comment