TANGGUNG JAWAB MORAL REKOMENDASI HASIL ISODEL 2021

PENULIS

DIUNGGAH PADA

Artikel ini sebelumnya pernah diterbitkan di Bulletin Asesmen Volume 19, No. 1, April 2022

Secara historis, ISODEL (International Symposium on Open, Distance and E-Learning) sudah diselenggarakan oleh Pusat Data dan Teknologi Informasi (nomenklatur saat itu Pusat Teknologi dan Komunikasi = Pustekkom) sejak tahun 1995 di Yogyakarta. Selanjutnya secara periodik ISODEL diselenggarakan sebagai event kegiatan internasional tiga tahunan. Ikhtiar untuk menyusuli kesuksesan penyelenggaraan ISODEL 2018 di Bali sebagai baseline penyelenggaraan ISODEL 2021, ternyata faktanya tidak sesederhana harapannya. Sebagaimana kita pahami bersama efek pandemi Covid-19 telah mengubah pola pikir, praktik, sekaligus memperkaya proses pembelajaran yang dilakukan di dunia. Pada konteks ini, pemanfaatan teknologi informasi untuk kalangan dunia pendidikan, kebudayaan, dan teknologi melonjak secara signifikan.

Menyadari hal tersebut, ISODEL 2021 diselenggarakan dalam bentuk virtual menghadirkan kolaborasi Pusdatin dengan berbagai pemangku kepentingan pendidikan, peneliti, pendidik, akademisi komunitas dan praktisi di dalam dan luar negeri menanggapi dinamika dan tantangan yang ada dalam pemanfaatan teknologi untuk pendidikan. Dibuka oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, ISODEL 2021 menghadirkan beberapa Ministerial Speech, Duta Besar dan juga para praktisi serta akademisi pembelajaran maupun teknologi informasi. Penyelenggaraan simposium dengan model virtual ini agaknya akan menjadi trend kegiatan selama pandemi COVID-19 masih belum terselesaikan secara menyeluruh. Disadari atau tidak, simposium virtual semacam ini sangat relevan dan linier dengan prinsip-prinsip ekonomi, betapa tidak, dengan budget yang relatif lebih murah bisa menghadirkan para narasumber, pembicara dan presenter yang lebih banyak dan lebih berkualitas.

Perhelatan besar ISODEL 2021 oleh Pusat Data dan Teknologi Informasi, Kemendikbudristek telah usai diselenggarakan di penghujung tahun 2021 ini. Mengambil tema Education Technology in the New Normal: Now and Beyond, ISODEL 2021 sukses diselenggarakan secara virtual pada tanggal 1-3 Desember 2021, menyusuli kesuksesan penyelenggaraan ISODEL 2018 sebelumnya di Bali. Sebagaimana lazimnya penyelenggaraan sebuah simposium, kegiatan utama ISODEL 2021 disajikan dalam bentuk plenary dan parallel session. Plenary session diselenggarakan sebanyak 10 sesi, sedangkan parallel session menyajikan presentasi dari sejumlah 80 penulis riset/makalah/artikel. Plenary 1 dan 2 mengambil sub tema Industry 4.0: Big Data, Internet of Things (IoT), Artificial Intelligence (AI), Financial Technology (Fintech), Virtual and Augmented Reality (VR and AR), Games, Virtual Classroom and Campus, Statistic, Webinar. Plenary 3 dan 4 membahas sub tema Digital Educational Transformation: Closing the digital gap, to Reach the Unreach, Remote Area, Open Access, Flexible Learning, Disability Access. Plenary 5 dan 6 mengambil sub tema Character Building: digital literacy, 21st century skills (critical thinking and problem solving, collaboration, communication, creativity and innovation), life skills learning to be, learning to do, learning to learn, learning to live together). Plenary 7 dan 8 mengusung sub tema Vocational Education 4.0: professional certification, quality assurance, integration of vocational education to industry 4.0, competences and qualification.Terakhir, Plenary 9 dan 10 dengan sub tema Preserving Future Children Characters and Culture by ICT.

Sebagaimana disampaikan pada saat penutupan, ISODEL 2021 menelurkan 11 (sebelas) rekomendasi hasil diskusi dan pembahasan selama tiga hari penyelenggaraan tersebut. Tentu saja rekomendasi itu tidak sekedar basa basi sebagai pertanda simposium akan segara ditutup secara resmi. Pun bukan hanya coretan di atas kertas yang boleh dilupakan oleh ingatan ketika kepanitian ISODEL 2021 sudah dibubarkan. Memaknai dan menindaklanjuti rekomendasi tersebut jauh lebih penting dan krusial derajatnya dibanding menyusun kalimat rekomendasi itu sendiri. Haqqul yaqin, hal ikhwal tindak lanjut rekomendasi tersebut tidak mungkin dilaksanakan sendirian oleh Pusat Data dan Teknologi Informasi. Harus diselesaikan secara majemuk dengan berbagi peran dan berkolaborasi tindakan bersama semua pemangku kepentingan terkait di bidang pendidikan, teknologi, informasi dan komunikasi.

Rekomendasi hasil ISODEL 2021 tersebut adalah: Pertama, it is undeniable that technological disruption brings about rapid systemic changes in education that needs to be addressed strategically. It can be faced by enabling innovative solutions to support learning environment that is adaptive and transformative. Tidak dapat disangkal bahwa saat ini disrupsi teknologi, yaitu kondisi dimana sistem yang kita gunakan berubah dengan cepat karena teknologi tidak bisa dibendung lagi, harus disikapi dan dihadapi dengan baik dan sistemik. Disrupsi teknologi di dunia pendidikan tidak memberikan kita pilihan, selain harus beradaptasi dan berinovasi menjadikannya sebagai inovasi dan solusi. Cepat atau lambat beberapa fungsi keberadaan pendidik akan tergantikan oleh teknologi. Meski masih banyak pendidik yang sedang terlena dengan pemahaman “fungsi pendidik boleh saja tergantikan oleh teknologi, tapi peran sebagai pendidik tidak akan pernah tergantikan oleh teknologi”. Agaknya, aliran pemikiran ini akan terlambat menyikapi bahwa pendidik yang tidak/tidak pernah menggunakan teknologi dalam pembelajarannya, akan tergerus oleh teknologi itu sendiri.

Kedua, in the era of new normal, collaboration is a necessity. Collaboration is more than just mutually beneficial cooperation – it is an awareness to share and complement each other for optimal success. Collaborative work needs to be developed not only across geographic areas but also across professions. In the field of education, collaborative approaches are foundational to effective pedagogy. Pada era normal baru, kolaborasi merupakan suatu keniscayaan. Kolaborasi lebih dari sekedar kerjasama yang saling menguntungkan, namun merupakan sebuah kesadaran untuk saling berbagi dan saling melengkapi. Kerja kolaboratif merupakan suatu keharusan bukan saja lintas wilayah geografis, namun juga lintas profesi. Kolaborasi adalah usaha membangun peradaban bersama. Berbagi dan berkolaborasi hanya sebatas kata mutiara jika tidak segera diimplementasikan dalam bentuk berbagi peran dan berkolaborasi tindakan secara lintas profesi, wilayah dan jenjang sesuai tugas dan tanggung jawab masing-masing.

Ketiga, learning technology activists and specialists continuously explore opportunities and approaches to design learning architecture that is enlightening and empowering. Adopting new technology with a need-based innovation to address local challenges and problems is not only about limited to technological aspects but also socio-cultural and humanistic aspects. Para pemerhati dan penggiat Teknologi Pembelajaran sudah sepatutnya terus menerus melakukan inovasi yang bukan sekedar adopsi teknologi baru, namun inovasi yang mencerahkan dan memberdayakan. Inovasi yang berdasarkan kebutuhan untuk menjawab tantangan dan permasalahan setempat. Bukan sekedar latah pada kecanggihan teknologi. Ikhtiar yang merujuk pada from imitation to innovation bisa menjadi pilihan alternatif untuk memperkaya jenis dan ragam inovasi yang akan dikembangkan. 

Keempat, in developing innovation, we should not forget about the importance of pedagogy. In the new normal, although ICT is a necessity, it is not the absolute goal. Learning Technology is about providing solutions to help students learn optimally to in various condition with appropriate technology. Dalam mengembangkan inovasi, para pendidik sudah seharusnya menengok lagi ke aspek pedagogik. Meskipun TIK merupakan suatu keniscayaan pada era normal baru, namun TIK bukanlah suatu tujuan. Teknologi Pembelajaran adalah tentang solusi bagaimana mengantarkan peserta didik untuk belajar secara optimal dalam kondisi apapun dan dimanapun dengan teknologi tepat guna yang tersedia. Solusi cerdas untuk menyikapi hal ini adalah memperbanyak model pembelajaran dan media pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan teknologi pembelajaran saat ini. 

Kelima, one of the essential issues related to remote areas in Indonesia (Frontier, Outermost, Disadvantaged) is the difficulty of access. Therefore, ICT infrastructure and networks for remote areas should be a priority. With the availability of access for digital technology such as the Internet in the remote areas, it is hoped to accelerate the economy and support the improvement of quality of education parallels to nonremote areas. Salah satu isu paling penting terkait daerah 3T adalah kesulitan akses. Oleh karenanya, infrastruktur dan jaringan TIK untuk daerah 3T harus menjadi prioritas. Dengan ketersediaan akses pada daerah 3T maka diharapkan akan terjadi kesejajaran antara daerah kategori 3T dengan daerah lainnya. Beberapa program pemerintah terkait pengembangan infrastruktur TIK di wilayah 3T sudah mulai menunjukkan hasil positif. Kencenderungan perbaikan kondisi ini mesti dirawat dengan baik, bahkan perlu ditingkatkan lagi manakala daya dukungnya memungkinkan dan tersedia. 

Keenam, blended learning will become the new normal in education. This will have an impact not only on the learning methodology but also on the streamlining of the curriculum. Learning resources that are readily available and easily accessible such as various learning subjects/topics and diverse learning media can be used directly. This contributes to more efficient process of learning subsidizing the need for face-toface interaction. Blended learning akan menjadi suatu kenormalan baru dalam pembelajaran. Hal ini akan berdampak bukan saja pada metodologi pembelajaran, tetapi juga pada perampingan kurikulum. Materi pelajaran yang sudah tersedia dan mudah diakses di web, tidak lagi akan mengambil waktu banyak di dalam kelas, sehingga waktu tatap muka di kelas akan semakin sedikit dan efisien. Sebaliknya waktu pembelajaran virtual di luar kelas akan cenderung mengalami peningkatan.

Ketujuh, the teacher’s work time will be longer than just teaching hours. Learning interactions can run all the time, both synchronous and asynchronous. For that, it is necessary to redefine the duties and hours of training teachers. In this context, teachers will function more as learning facilitators than as authoritative figures. Waktu tugas guru akan menjadi lebih panjang dari sekedar jam mengajar. Interaksi pembelajaran bisa berjalan sepanjang waktu, baik sinkronus maupun asinkronus. Untuk itu, perlu definisi ulang tentang tugas dan jam mengajar seorang guru. Dalam konteks ini, guru akan lebih berperan sebagai fasilitator pembelajaran daripada hanya sebagai pengajar. Tentu saja, definisi jumlah jam mengajar seorang guru perlu diaktualisasi, tidak sekedar perhitungan matematis berapa lama seorang guru berdiri mengajar di hadapan siswanya di dalam kelas.

Kedelapan, in vocational education, student learning experiences online through various innovative learning models and mixed creative learning media provide experience and student readiness to enter the digital world of work in the future. For this reason, in vocational education, it is recommended to utilize development models that foster creativity. Pada pendidikan vokasi pengalaman belajar siswa secara daring melalui berbagai model pembelajaran inovatif dan berbagai media pembelajar kreatif memberikan pengalaman sekaligus kesiapan siswa memasuki dunia kerja digital di masa depan. Untuk itu, pada pendidikan vokasi disarankan untuk memanfaatkan model-model pengembangan yang menumbuhkan kreativitas. Saat ini, model-model pengembangan pendidikan vokasi jamak dijumpai secara aplikatif di dunia maya baik yang gratis maupun berbayar.

Kesembilan, strategies for advancing vocational education during the era of digitalization offer higher-level skills, flexible and modularize integrate technologies that change our perspective (agile, responsive, personalized learning), reviewing and updating, revamping or even developing new curriculum to match with the new occupations and new demands of a complex working environment, including in green jobs. Strategi untuk memajukan pendidikan kejuruan di era digitalisasi menawarkan keterampilan tingkat tinggi, fleksibel dan memodulasi teknologi yang mengubah perspektif kita (belajar gesit, responsif, personalisasi), meninjau dan memperbarui, memperbaiki atau bahkan mengembangkan kurikulum baru agar sesuai dengan pekerjaan baru dan tuntutan baru dari lingkungan kerja yang kompleks, termasuk jenis pekerjaan ramah lingkungan.

Kesepuluh, one of the issues causing learning loss is the unpreparedness of teachers (schools) to organize online learning. For this reason, the improvement of teacher competence, especially in the use of ICT for learning, must continue to be improved. Salah satu isu penyebab learning loss adalah ketidaksiapan guru (sekolah) menyelenggarakan pembelajaran secara on line. Untuk itu, peningkatan kompetensi guru, khususnya dalam pemanfaatan TIK untuk pembelajaran masih harus terus ditingkatkan. 

Kesebelas, character education is another essential issue in digital learning. On one hand, many parents worry about the lack of face-to-face interaction with teachers resulting in fewer opportunities for character building. On the other hand, ICT has excellent potential in offer new ways to contribute positively to character education. Therefore, technology can be used to develop learning models that emphasize habituation and the cultivation of good character. Pendidikan karakter merupakan isu penting dalam pembelajaran digital. Banyak kekhawatiran orang tua terkait kurangnya waktu tatap muka dengan guru yang mungkin akan berakibat pada sedikitnya kesempatan pembentukan karakter. Namun di pihak lain, TIK memiliki potensi besar dalam pendidikan karakter, antara lain dengan pengembangan konten-konten pendidikan karakter. Demikian juga para guru dapat mengembangkan model-model pembelajaran yang menekankan pada pembiasaan dan penanaman karakter baik.

Meski Pandemi COVID-19 tidak pernah jelas kapan akan berakhir, banyak pihak menaruh harapan besar terselenggaranya pembelajaran berbasis TIK yang lebih baik. Salah satu ikhtiar untuk mewujudkan kondisi tersebut dengan cara menindaklanjuti sejumlah rekomendasi hasil ISODEL 2021 tersebut di atas. Meski bukan hal yang gampang, mengkonversi rekomendasi hasil ISODEL 2021 ke dalam bahasa Rencana Strategi (Renstra) Kemendikbudristek perlu diupayakan, agar memiliki landasan hukum yang kuat untuk penganggaran dan pelaksanaan kegiatan implementasinya nanti. Paling tidak, sebagai tanggung jawab moral, rekomendasi hasil ISODEL 2021 perlu ditindaklanjuti dengan rencana aksi (action plan) dalam jangka pendek. David Ayres, seorang praktisi dan pemerhati pendidikan pernah mengatakan, if you fail to plan then you plan to fail. Semoga kita tidak termasuk pihak yang gagal merencanakan sesuatu, yang secara maknawi sama dengan merencanakan untuk kegagalan.- (ma)

Leave a comment