Artikel ini sebelumnya pernah diterbitkan di Bulletin Asesmen Volume 16, No. 3, Desember 2019
Pemantauan Bersama (Joint Monitoring Mission) yang dilaksanakan pada tanggal 6 – 8 Agustus 2019 ini merupakan kegiatan pemantauan bersama yang ke-enam kali diselenggarakan Program INOVASI. Tim Pemantauan Bersama dipimpin langsung oleh Kepala Pusat Penilaian Pendidikan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan selaku Ketua Unit Manajemen INOVASI (UMI) dan diikuti oleh unsur dari Kemdikbud, Kemenag, Kedutaan Besar Australia (DFAT), serta Tim INOVASI (Jakarta dan Jawa Timur).
Tujuan pemantauan bersama adalah untuk mendapatkan informasi langsung dari lapangan mengenai beberapa hal, diantaranya kemajuan pelaksanaan program rintisan INOVASI dan tanggapan dari Pemerintah Daerah dan pemangku kepentingan lainnya dalam mendukung pelaksanaan, keberlanjutan dan scale out Program Rintisan INOVASI di Kabupaten Sidoarjo dan Probolinggo. Hasil pemantauan bersama ini diharapkan dapat digunakan sebagai masukan berbasis bukti kepada National Steering Committee untuk perbaikan Program INOVASI beserta keberlanjutannya oleh masyarakat dan pemerintah daerah nantinya.
Kunjungan pemantauan bersama di Sidoarjo difokuskan pada perkembangan pelaksanaan program rintisan numerasi di Kecamatan Candi dan Kecamatan Tanggulangi , sedangkan di Probolinggo difokuskan untuk mengamati perkembangan pelaksanaan program rintisan literasi di Kecamatan Paiton dan Pembelajaran Kelas Rangkap (multi grade) di Kecamatan Sukapura.
Sedikit berbeda jika dibandingkan dengan provinsi mitra INOVASI lainnya, di Jawa Timur, kegiatan Pelatihan Dasar Numerasi, Literasi, dan Kelas Multigrade dilakukan pada periode bulan Oktober 2018 – Mei 2019. Sebelumnya didahului Training of Trainers (TOT) bagi Fasilitator Daerah (FASDA) dibulan agustus 2018.
Mengingat jeda waktu yang pendek antara berakhirnya program pelatihan dasar dan penerapannya di sekolah dengan waktu pelaksanaan pemantauan bersama, dapat dikatakan bahwa pemantauan kali ini merupakan pemantauan awal dan belum dapat melihat hasil secara komprehensif dari program rintisan INOVASI terhadap hasil belajar siswa.
Namun demikian sudah dapat dilihat indikasi kuat terjadinya perubahan proses pembelajaran yang lebih menyenangkan dan berpusat pada anak, misalnya di Kabupaten Sidoarjo, ditemukan adanya indikasi awal terjadinya perbaikan mutu proses belajar mengajar. Hal ini bisa dilihat dari mindset guru mengenai pentingnya keterlibatan anak secara aktif dalam proses belajar mengajar, penggunaan media pembelajaran, proses refleksi pembelajaran, pengaturan ruang kelas dan tempat duduk anak. Hal ini merefleksikan pemahaman guru yang lebih baik mengenai bagaimana strategi pengajaran numerasi di kelas rendah sekolah dasar.
Program rintisan INOVASI menjadikan guru lebih memahami alur dan/atau tahapan dalam proses pembelajaran numerasi. Kegiatan peningkatan kompetensi pembelajaran guru oleh program rintisan INOVASI yang dilaksanakan di forum Kelompok Kerja Guru (KKG) ikut andil dalam menyumbang pengembangan profesionalitas guru (dan kepala sekolah), baik guru PNS maupun non PNS yang ditugaskan di sekolah negeri maupun swasta, dan juga madrasah. Secara kelembagaan kegiatan KKG di daerah ini menjadi lebih aktif dan mendukung kebutuhan guru untuk peningkatan profesionalitasnya.
Semua perbaikan terkait dengan penguatan kapasitas guru dalam proses belajar mengajar pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Di Kabupaten Probolinggo, Tim Pemantau juga melihat terjadinya proses pembelajaran literasi yang interaktif dan menarik minat siswa yang terjadi di kelas maupun di luar kelas. Kondisi ruang kelas menjadi lebih literat dengan berbagai pajangan media pembelajaran dan sudut baca. Setelah mengikuti pelatihan dasar literasi, guru menjadi lebih paham tentang proses atau tahapan pembelajaran literasi, serta berusaha untuk terus mengeksplorasi hal-hal baru guna meningkatkan pemahaman literasi siswa sekaligus menjadikan pelajaran literasi menjadi lebih menyenangkan.
Kelas multigrade di Probolinggo mendukung layanan sekolah secara efisien karena dengan guru yang tersedia kegiatan pembelajaran di sekolah kecil tetap berlangsung dengan baik tanpa harus menambah guru baru . Selain itu terjadi pengurangan jumlah ruang kelas yang digunakan. Di kelas multigrade pengguna media pembelajaran sangat penting tidak saja untuk membantu mempermudah dalam penyampaian konsep pelajaran namun juga agar para siswa tetap aktif belajar dan bekerjasama dalam mengerjakan 3 tugasnya ketika guru beralih dari satu kelompok ke kelompok lainnya dalam membimbing para siswa di kelas multigrade.
Tantangan utama adalah memetakan kurikulum berdasarkan Kemampuan Dasar (KD) dan Kemampuan Inti (KI) agar pembelajaran relevan bagi kelas yang berbeda. Tantangan berikutnya adalah guru perlu melakukan persiapan, termasuk penyusunan skenario dan media pembelajaran, dan pelaksanaan pembelajaran bagi dua kelas berbeda tingkat dalam satu kelas secara bersamaan. Namun demikian para guru multigrade merasa bahwa jerih payahnya terbayar dengan melihat suasana pembelajaran lebih menyenangkan, aktif dan terciptanya suasana interaksi guru dan siswa, serta antar siswa menjadi lebih baik. Pemerintah daerah dan masyarakat menerima dan mendukung penerapan kelas multigrade. Hal ini merupakan modal kuat untuk kesinambungan program rintisan di daerah ini.
Di Kabupaten Sidoarjo dan Probolinggo, Kepala Sekolah (pada sekolah yang dikunjungi) memberikan dukungan supervisi pembelajaran terhadap guru kelas. Sekolah juga memberikan bantuan sumber dana yang diperlukan (secara terbatas) untuk mendukung terjadinya proses belajar mengajar yang bermutu. Termasuk dalam hal ini adalah dukungan sekolah bagi guru untuk mengikuti kegiatan KKG. Pemerintah Kabupaten Sidoarjo dan Probolinggo memberikan perhatian serius serta dukungan dalam pelaksanaan program rintisan INOVASI di daerahnya masing-masing. Kedua pemerintah kabupaten tersebut juga menyanggupi untuk melanjutkan program rintisan INOVASI pasca berhentinya program ini. Dukungan terhadap keberlanjutan program direalisasikan dalam bentuk dukungan regulasi dan pendanaan.
Namun demikian ada beberapa tantangan yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan dan keberlanjutan program INOVASI di kedua kabupaten tersebut, antara lain: (1) pelatihan dasar numerasi, literasi, dan pengelolaan kelas multigrade dirasakan guru belum optimal, dan masih perlu pendampingan/monitoring lanjutan agar para guru benar benar dapat menguasai dan menerapkan materi pelatihan dengan lebih baik; (2) media pembelajaran lain menyenangkan dan membuat siswa aktif, juga membantu guru dalam proses pembelajaran. Namun demikian masih belum banyak kreativitas dari guru untuk menciptakan media pembelajaran sesuai dengan konteks lokal; (3) belum ada konektivitas strategi pembelajaran di kelas rendah dengan di kelas tinggi sekolah dasar. Sementara anak yang sudah naik ke kelas tinggi terbiasa dengan pembelajaran yang bervariasi; (4) masih terbatasnya koleksi buku-buku non-teks pelajaran; dan (5) sumber pendanaan sekolah, terutama di sekolah kecil, masih terbatas untuk dapat mendukung proses belajar mengajar yang bermutu (peraturan dana BOS dengan minimal 60 siswa tidak berlaku di Probolinggo karena tidak termasuk daerah 3T).
Terkait dengan replikasi, pemerintah kabupaten juga masih membutuhkan dukungan teknis dari INOVASI. Seperti telah diuraikan, dari hasil pemantauan bersama telah ditemukan adanya indikasi awal peningkatan mutu proses belajar dan mengajar di sekolah, namun demikian masih ada beberapa hal yang perlu dilakukan untuk lebih meningkatkan mutu proses belajar mengajar serta kesinambungan program rintisan. Beberapa rekomendasi yang dirumuskan berdasarkan hasil pemantauan bersama di Kabupaten Sidoarjo dan Probolinggo untuk perbaikan pelaksanaan program rintisan INOVASI beserta keberlanjutannya, antara lain sebagai berikut:
- Dukungan untuk penguatan kelembagaan dan fungsi KKG sebagai sarana pengembangan diri guru. Hal ini penting untuk menjaga motivasi dan kreativitas guru dalam peningkatan kompetensinya bagi penyelenggaraan proses pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan perkembangan ilmu pengetahuan;
- Perlu upaya untuk konektivitas strategi pembelajaran kelas rendah dan kelas tinggi agar terjadi kesinambungan proses pembelajaran yang seirama dari kelas awal hingga siswa menyelesaikan pendidikan SD;
- Perlu dukungan kebijakan dan pendanaan dari sekolah dan pemerintah daerah untuk mendukung proses belajar dan mengajar yang bermutu, dukungan tersebut perlu disebutkan secara eksplisit di RPS/RKAS sekolah dan Renstra/Rencana Kerja tahunan dinas terkait;
- Penguatan kapasitas pengawas dalam super visi Pendidikan, ter masuk memberikan bimbingan/mentoring tentang program rintisan kepada para guru di wilayah binaannya. Termasuk dalam hal ini adalah penguatan pengawas sekolah melalui forum Pokjawas (Kelompok Kerja Pengawas); dan
- Perlu penyusunan substansi terkait dalam Rencana Pemda untuk melanjutkan program rintisan INOVASI, sehingga dampak yang ditimbulkan dari kegiatan program rintisan dapat tetap berlanjut dan bahkan menjadi lebih baik lagi pasca selesainya program rintisan di daerah ini.
Hal yang pasti sebagai sebuah keniscayaan adalah perlu adanya kerjasama dan dukungan dari berbagai pihak, seperti dari masyarakat, dunia usaha, sekolah dan pemerintah daerah untuk secara bersama-sama mengembangkan dan mengimplementasikan strategi yang diperlukan untuk realisasi rekomendasi tersebut. Semoga,-

Leave a comment