Selaku Ketua UMI, Kepala Pusat Penilaian Pendidikan memimpin Tim Pemantauan Bersama ini didampingi perwakilan dari Kemendikbud, Kemenag, Kedutaan Besar Australia (DFAT) serta Tim TASS dan INOVASI (Jakarta dan NTT) melaksanakan kunjungan dan pemantauan ke Kabupaten Sumba Barat, Sumba Tengah, dan Sumba Barat Daya, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada tanggal 18 – 20 Februari 2019.
Tujuan utama dari pemantauan bersama adalah untuk menjalin kerjasama erat para pihak/pemangku kepentingan , dan untuk mengetahui komitmen pemerintah provinsi, kabupaten dan sekolah menjamin keberlanjutan program selama dan pasca INOVASI. Untuk mencapai tujuan tersebut, serangkaian diskusi dan kajian bersama antara Tim Pemantauan Bersama dengan Pemerintah daerah di 3 kabupaten tersebut telah dilakukan. Tim Pemantauan Bersama juga melakukan kunjungan ke sekolah serta melakukan dialog dengan kepala sekolah, guru, serta Fasda (Fasilitator Daerah) INOVASI.
Pemantauan lapangan difokuskan pada program rintisan Pelatihan Dasar Pembelajaran Literasi (literacy short-course) dan Kepemimpinan untuk Pembelajaran. Khusus untuk kunjungan di Kabupaten Sumba Barat, Tim Pemantauan juga berkesempatan berdialog dengan masyarakat di Desa Lokory terkait dengan pencanangan Desa Lokory sebagai Desa Literasi percontohan.
PROGRAM RINTISAN INOVASI DI NTT
Implementasi program INOVASI di Provinsi NTT dilakukan di 4 kabupaten, yaitu Sumba Barat, Sumba Barat Daya, Sumba Tengah, dan Sumba Timur. Pencanangan program INOVASI di NTT dilaksanakan pada tanggal 2 November 2017 melalui penandatanganan nota kesepahaman (MOU) antara Pemerintah Provinsi NTT dengan Kemendikbud.
Program Pilot INOVASI di NTT dikembangkan berdasarkan hasil studi yang telah dilakukan oleh berbagai pihak seperti Puspendik – Kemendikbud, ACDP, serta hasil survei SIPPI INOVASI dimana tingkat kemampuan literasi anak-anak di Sumba masih cukup rendah. Pemerintah daerah merespons positif terhadap temuan tersebut dengan menggalang dukungan berbagai pihak serta mereformasi kebijakan guna meningkatkan hasil pembelajaran siswa jenjang sekolah dasar (SD/MI).
Program Rintisan (Pilot) INOVASI dikembangkan untuk mengetahui apa yang terbukti berhasil dan tidak berhasil untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam hal kemampuan literasi dan numerasi dengan konteks masing-masing daerah. Dalam hal ini, Tim INOVASI bersama-sama dengan guru, kepala sekolah, dan pejabat setempat mengidentifikasi masalah yang perlu dipecahkan untuk membantu siswa belajar lebih baik dan menemukan cara terbaik untuk menyelesaikan masalah ini sesuai konteks lokal dengan bersama-sama mengujicobakan solusi lokal atau praktik yang terbukti berhasil di tempat lain.
Mengingat bahwa program rintisan (pilot) INOVASI dikembangkan dengan memperhatikan konteks di mana program tersebut berjalan, maka tinjauan terhadap apa yang berhasil dan tidak berhasil dalam Pilot INOVASI nampaknya juga perlu memperhatikan hal hal yang terkait dengan konteks dari pengembangan program rintisan tersebut. Dalam hal ini konteks dapat dikategorikan ke dalam konteks anak, guru, kelas, sekolah, masyarakat dan kebijakan pemerintah daerah. Konteks di tingkat sekolah, seperti dukungan pengawasan pembelajaran, ketersediaan dan penggunaan dana BOS untuk mendukung proses pembelajaran , pengembangan keprofesian berkelanjutan guru di KKG, dan lain-lain.
Pemantauan Bersama ini menghasilkan gambaran umum dan fakta yang terjadi di lapangan sebagai berikut:
1) Program Rintisan INOVASI di Sumba
Di Sumba, INOVASI telah melaksanakan empat program yang berbeda di masing-masing kabupaten pada semester pertama tahun ajaran 2018. Selanjutnya pada semester kedua 2018 hingga tahun 2019, INOVASI menjalankan pelatihan literasi dasar di kelas awal untuk seluruh kabupaten sedaratan Sumba.
Program rintisan INOVASI yang menjadi fokus sasaran pemantauan bersama di Sumba adalah Pelatihan Dasar Pembelajaran Literasi dan Kepemimpinan untuk Pembelajaran. Program rintisan tersebut dimulai dengan pelatihan terhadap Fasilitator Daerah (Fasda) dan sosialisasi program yang dilaksanakan pada semester pertama tahun 2018. Kedua program tersebut dijalankan hampir bersamaan namun dengan target peserta yang berbeda. Untuk program Kepemimpinan Pembelajaran peserta utamanya adalah kepala dan wakil kepala sekolah, komite sekolah, pengawas sekolah, sedangkan untuk program Pembelajaran Literasi Dasar peserta utamanya adalah Guru SD kelas awal, dan melibatkan juga kepala sekolah.
Pelatihan substansi Kepemimpinan untuk Pembelajaran dimulai bulan Januari 2019, dari keseluruhan 8 unit modul pelatihan, hingga bulan Februari telah menyelesaikan 3 unit dan sisanya akan diselesaikan hingga bulan Juni 2019 (akhir semester).
Pelatihan Dasar Pembelajaran Literasi dimulai bulan Oktober 2018, dan hingga bulan Februari telah menyelesaikan 5 unit dari keseluruhan 7 unit modul pelatihan. Diharapkan keseluruhan materi pelatihan akan diselesaikan hingga bulan Juni 2019.
Desain pelatihan kedua program rintisan tersebut menggunakan pendekatan In – On – In, dimana kegiatan workshop pelatihan dilaksanakan secara bertahap, dan penerapannya di kelas/sekolah tidak menunggu sampai selesai keseluruhan unit modul pelatihan.
2) Program Rintisan Bermanfaat untuk Mendukung Perubahan Praktik dan Sikap Guru di Sekolah
Karena pemantauan bersama ini merupakan pemantauan awal, belum bisa melihat dampak program secara komprehensif meskipun sudah bisa melihat indikasi awal terjadinya perubahan proses pembelajaran yang lebih menyenangkan di kelas, literat dan berpusat pada anak.
- Dari hasil kunjungan ke beberapa sekolah sampel di Kab. Sumba Barat, Sumba Barat Daya, dan Sumba Tengah ditemukan adanya indikasi awal yang kuat terjadinya perbaikan mutu proses pembelajaran. Hal ini bisa dilihat dari mindset guru mengenai keterlibatan anak dalam proses belajar mengajar, penggunaan media, pengaturan ruang kelas dan tempat duduk anak . Dimana hal tersebut merefleksikan pemahaman yang lebih baik mengenai bagaimana strategi mengajarkan literasi di kelas rendah. Indikasi awal lainnya adalah guru semakin menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari persoalan terutama terbatasnya kemampuan guru dalam hal variasi metode mengajar. Misalnya, guru menjadi lebih reflektif dan tidak semata menyalahkan siswa.
- Indikasi telah terbangun komunikasi pembelajaran yang baik antara siswa dan guru melalui berbagai media pembelajaran yang ada di kelas. Guru juga menerapkan berbagai variasi metode pembelajaran yang membuat siswa bergembira, seperti kegiatan di luar kelas untuk menyanyi dan mendongeng.
- Indikasi peningkatan pengetahuan dan keterampilan teknis guru serta penerapan pengetahuan baru tersebut dalam proses pengerjaan . Guru SD kelas awal di Kabupaten Sumba Barat, Sumba Barat Daya, dan Sumba Tengah menggunakan big book (alat bantu mengajar) untuk memudahkan siswa memahami huruf bacaan serta maknanya. Pada dinding kelas terpampang visualisasi tulisan huruf dan angka, seperti pohon ilmu, tembok kata dan lainnya yang membuat kelas lebih literat. Di kelas juga terdapat pojok pasar untuk memperkenalkan siswa kepada barang-barang keperluan hygiene perorangan, juga terdapat sudut baca untuk merangsang siswa gemar membaca. Hal terakhir jarang ditemui di SD/MI nonmitra INOVASI.
Namun demikian juga dijumpai di sekolah bahwa penempelan alat bantu belajar terlalu berlebihan sehingga ruang kelas nampak ‘crowded’. Selain terlalu padat, letaknya terlalu tinggi hingga sulit bagi siswa kelas awal untuk membaca atau mengamati. Perlu penataan yang lebih sesuai usia dan tinggi anak.
Bagaimana manfaat dari program INOVASI diungkapkan oleh Guru SD kelas 1 di Sumba Barat:
“.. big book sangat membantu kami … ada gambar dan tulisannya dan sangat membantu kami mengajar. … kami juga menerapkan membaca kata sambil melakukan permainan … dan anak-anak sangat tertarik sekali dengan model pembelajaran seperti itu. Sebelum ada INOVASI kelas terlalu kosong … sekarang menjadi lebih menarik … terima kasih INOVASI telah membantu kami”.
Kepala sekolah yang diwawancarai juga membenarkan bahwa dengan program INOVASI guru tidak lagi asal mengajar tetapi ada tahapan-tahapan tertentu yang harus dilalui dalam proses pembelajaran.
- Meskipun masih terlalu dini untuk melihat dampak program terhadap hasil belajar siswa, karena guru belum menerapkan semua materi pelatihan (pelatihan bertahap berbasis modul masih berlangsung) , tetapi guru mengungkapkan bahwa ada sedikit perbaikan nilai ulangan karena anak-anak lebih antusias dalam mengikuti pembelajaran.
- Pelatihan Kepemimpinan kepala sekolah yang berpihak pada pembelajaran juga memberikan manfaat dalam membantu kepala sekolah memberikan bimbingan kepada guru dalam penataan dan pengelolaan kelas, serta supervisi akademik yang ditindaklanjuti dengan refleksi atau evaluasi hasil supervisi tersebut bersama guru. Program rintisan Kepemimpinan kepala sekolah untuk pembelajaran nampaknya telah menghasilkan ’embrio’ keaktifan kepala sekolah dalam supervisi dan refleksi pembelajaran dan hal ini penting untuk memotivasi guru dalam menerapkan model pembelajaran yang inovatif. Dan hasilnya mungkin nanti bisa dilihat ketika INOVASI melakukan survey end-line terhadap program ini.
- Di beberapa sekolah yang dikunjungi juga ditemui perpustakaan sekolah yang berfungsi sebagai pusat pengetahuan dan sumber belajar sekaligus mendorong rasa cinta baca, yang dikelola oleh petugas pustaka (tenaga honorer). Namun juga dijumpai bahwa koleksi buku perpustakaan belum ditata sesuai dengan tingkat perkembangan usia anak. Koleksi buku masih didominasi oleh buku teks, sedikit buku fiksi. Di Sumba Barat Daya umumnya sudah ada perpustakaan sekolah namun ada beberapa sekolah di mana aspek pengelolaan administrasi perpustakaan masih belum rapih, misalnya, belum ada buku catatan daftar pinjam buku dan pajangan tata tertib di perpustakaan.
- Selain itu menurut pengamatan dari ahli perbukuan (dari Puskurbuk) banyak bukubuku yang terpajang dalam rak buku perpustakaan sekolah belum melalui review atau penilaian dari Puskurbuk. Perlu kerjasama antara INOVASI dengan Pusat Perbukuan Kemendikbud untuk identifikasi buku-buku yang sesuai dengan usia anak. Selain itu juga perlu didukung dengan peraturan tentang penggunaan dana BOS untuk membeli buku yang sesuai dengan kebutuhan (berjenjang) dan telah mendapatkan ‘clearance’ dari Puskurbuk – Kemendikbud.
3) Tantangan dalam Penerapan Program Rintisan dan Kreativitas Guru dalam Meningkatkan Efektivitas Program Rintisan INOVASI
Dalam implementasi program Literasi INOVASI, guru mempunyai peran penting dalam membuat rencana pembelajaran sekaligus sekenario pembelajaran sesuai rambu-rambu; dan pola penyampaian materi kepada para siswanya sehingga proses belajar mengajar menjadi menyenangkan. Dalam penyampaian materi pembelajaran di kelas awal kadangkala guru menemui kesulitan karena kemampuan siswa kelas awal dalam literasi sangat bervariasi. Selain itu ada juga keterbatasan pengalaman guru dalam menerapkan pedoman literasi INOVASI. Beberapa hal tersebut menjadi potensi kurang lancarnya penerapan skenario pembelajaran yang telah disusunnya. Disinilah pentingnya kreativas guru dalam menyikapi kondisi kelas masing-masing sehingga penerapan strategi pembelajaran INOVASI bisa diterapkan dengan baik.
Kasus di SD Katolik Kalelapa di mana guru mengelompokan siswa berdasarkan kemampuan. Di SD ini kemampuan literasi siswa masih beragam. Untuk meningkatkan kemampuan seluruh siswa, baik yang sudah mampu maupun yang belum, guru membuat pengelompokan siswa dengan tujuan untuk efektivitas pembinaannya. Anak kelas 1, 2 dan 3 yang belum lancar membaca suku kata dikelompokkan. Ada 5 level pengelompokan yaitu tentang huruf, suku kata, kata, membaca lancar dan membaca pemahaman. Salah satu contoh pengelompokan siswa kelas 1 digambarkan sebagai berikut:
- Berdasarkan hasil penilaian kemampuan membaca, siswa kelas 1 dikelompokan ke dalam 3 level kemampuan membaca, yaitu: 17 siswa masuk level Huruf, 13 siswa masuk level Suku Kata, dan 3 siswa masuk level Kata. Demikian juga dengan kelas 2 dan 3. Berdasarkan kelompok tersebut , pembelajaran menggunakan pendekatan pengajaran berjenjang (multigrade teaching), dimana kelas 1, 2, dan 3 digabungkan berdasarkan level kemampuan membacanya. Pengelompokan sangat dinamis, sesuai dengan kemajuan belajar siswa. Walaupun dalam perencanaan pembelajaran peningkatan level diperkirakan dalam satu bulan, namun dalam prakteknya jauh lebih cepat. Siswa kelas yang berasal dari kelas rendah dapat dibimbing oleh siswa dari kelas-kelas diatasnya, semacam peer learning. Setiap selesai mengajar guru melakukan refleksi. Praktik baik ini tidak ada dalam modul pelatihan dasar literasi INOVASI, tapi diadopsi dari program lain yang pernah diikuti oleh guru kelas. Praktik ini tidak melanggar prinsip INOVASI karena program rintisan INOVASI tidak hanya didesain berdasarkan solusi lokal namun juga praktik yang berhasil diuji coba di tempat lain yang disesuaikan dengan konteks lokal.
- Siswa kelas awal umumnya masih dalam masa transisi dari penggunaan bahasa ibu dan bahasa pengantar pembelajaran di kelas (Bahasa Indonesia). Untuk mengatasi hal ini guru menggunakan bahasa ibu untuk membantu penjelasan materi yang sulit dipahami oleh siswa kelas awal. Disinilah peranan guru lokal (umumnya guru honorer) yang mampu memberikan penjelasan dalam Bahasa yang dipahami oleh siswanya. Pemerintah Kabupaten Sumba Barat, melalui penjelasan bupati, telah menerapkan kebijakan penempatan guru berdasar wilayah. Misalnya, guru berasal dari wilayah A kembali mengajar di wilayah A. Hal ini membantu proses pembelajaran di kelas awal yang masih perlu penjelasan dengan bahasa ibu. Kebijakan tersebut mengindikasikan kepedulian Pemda terhadap upaya perbaikan mutu pembelajaran literasi di daerahnya.
- Praktik pengucapan hur uf abjad yang biasanya hanya A, B, C, D …. sesuai arahan INOVASI, sekarang pengucapan huruf harus dengan tambahan bunyi huruf vokal di belakang huruf abjad, seperti Aah! … Beeh! Ceeh! … Deeh! … guru masih kesulitan mengajarkan kepada siswa, namun guru belajar dan belajar terus sehingga lama kelamaan bisa mengajarkan cara pengucapan huruf tersebut dengan benar.
- Tingkat absensi siswa cukup tinggi, mungkin disebabkan berbagai faktor seperti budaya, kondisi geografis, dan hari pasar, sehingga merupakan tantangan non programatik yang dihadapi guru dalam pembelajaran literasi di sekolah. Untuk mengatasi hal ini guru berupaya menjadikan kegiatan pembelajaran di kelas menarik dan menyenangkan sehingga siswa semangat untuk datang ke sekolah. Strategi pembelajaran INOVASI yang diterapkan di sekolah, dalam beberapa kasus, ternyata mampu untuk mengurangi absensi siswa. Oleh karena itu model atau strategi pembelajaran INOVASI perlu untuk ‘ditularkan’ di kelas tinggi agar tingkat absensi siswa di semua jenjang kelas dapat dikurangi dan pembelajaran di kelas tinggi juga menjadi lebih menarik. Namun demikian, absensi di kelas rendah juga masih terjadi.
- Di Sumba Tengah, ditemukan guru di SD Narita yang menerapkan pembelajaran kelas rangkap (multi grade teaching) karena keterbatasan ruang kelas. Disini pada saat yang bersamaan guru menggabungkan dua kelas yang berbeda (kelas 1 dan 2; kelas 4 dan 5) dalam satu kelas pembelajaran dengan materi yang berbeda. Dalam hal ini dituntut kemampuan guru untuk mampu mengelola kelas dengan baik dan menjadikan siswa aktif sehingga kondisi kelas tidak gaduh atau ada siswa yang tidak belajar karena guru mengajar bergantian kelas. Model pembelajaran tradisional yang berpusat pada guru diubah menjadi pembelajaran berpusat pada anak. Nampaknya guru belum dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan cukup untuk mengajar dengan pola kelas rangkap. Tidak mustahil bahwa praktik pembelajaran kelas rangkap dialami sekolah mitra INOVASI di wilayah lain. Nampaknya INOVASI perlu memberikan pembekalan kepada guru (dan Fasda) bagaimana menerapkan strategi pembelajaran kelas rangkap sehingga tujuan peningkatan mutu pembelajaran literasi bisa tercapai.
4 ) Buy-in Semata Tidak Cukup Mendukung Keberlanjutan Praktik Baik di Kelas
Dari uraian sebelumnya dapat disimpulkan bahwa para guru program INOVASI telah menerapkan proses pembelajaran yang lebih baik. Bahkan beberapa diantaranya menerapkan kreativitas pembelajaran agar supaya model pembelajaran literasi INOVASI menjadi lebih efektif. Selain itu dari beberapa kunjungan ke sekolah di Sumba Barat, Sumba Tengah dan Sumba Barat Daya didapatkan informasi bahwa pihak guru dan kepala sekolah sangat antusias dalam menerima program INOVASI karena memang terbukti proses pembelajaran di kelas lebih menyenangkan, aktif dan kreatif. Mereka bahkan mengharapkan agar program INOVASI berlanjut.
Tantangannya adalah apakah praktik baik dalam strategi pembelajaran literasi di kelas akan berlangsung terus setelah program rintisan selesai? Harapannya tentunya praktik pembelajaran yang baik akan tetap berlangsung terus. Dari hasil wawancara dan diskusi, khususnya dengan para guru dan kepala sekolah didapat informasi mengenai faktor pendukung yang diperlukan untuk keberlangsungan praktik baik, antara lain sebagai berikut:
- Perlu dukungan dana BOS
- Supervisi berkala oleh Pengawas Sekolah
- KKG sebagai pusat sumber belajar guru dan sarana belajar secara kolegial perlu dilestarikan
- Perhatian terhadap kualifikasi guru, status kepegawaian dan kesejahteraannya (terutama guru honorer)
5) Dukungan Champions dan Pengembangan Kapasitas Daerah Penting Untuk Scale-out dan Keberlanjutan Program Rintisan INOVASI
Keberhasilan pelaksanaan, perluasan dan keberlanjutan program INOVASI memerlukan dukungan dari berbagai pihak termasuk kerjasama atau sinergi kelembagaan terkait di tingkat daerah dan pusat. Dukungan champions, utamanya bupati sebagai kepala daerah sangat penting karena di era otonomi daerah memiliki kewenangan luas dalam hal urusan pendidikan, termasuk upaya peningkatan hasil belajar siswa dalam literasi dan numerasi.
Dari hasil kunjungan lapangan ke beberapa sekolah dan audiensi dengan pimpinan daerah dan OPD terkait Di Kabupaten Sumba Barat, Sumba Tengah, dan Sumba Barat Daya didapat kesan bahwa semua pemangku kepentingan di daerah mendukung program INOVASI sebagai instrumen strategis untuk mengatasi rendahnya kapasitas literasi dan numerasi siswa di daratan Sumba. Bahkan Program INOVASI diharapkan lebih lama beroperasi di daerah ini agar masalah rendahnya tingkat literasi siswa bisa diatasi dengan tuntas. Tim Joint monitoring pusat dalam kesempatan audiensi dengan bupati dan jajaran OPD di Sumba Barat mendapatkan informasi bahwa bupati sangat mendukung program INOVASI dan kelanjutannya, dan akan mendorong Pemerintah Desa melalui musrenbang desa agar memberikan perhatian bagi keberlanjutan program INOVASI.
Selain dukungan dari champions, kesiapan daerah dalam hal kapasitas untuk perluasan dan keberlanjutan program INOVASI perlu dikembangkan. Dalam hal ini Fasda sebagai aktor utama dalam pelaksanaan penguatan kapasitas guru dan kepala sekolah perlu dikembangkan lebih lanjut kapasitasnya agar lebih mampu melanjutkan perjuangan INOVASI sesuai dengan konteks daerahnya.
Dalam beberapa wawancara dengan Fasda INOVASI didapatkan informasi bahwa kegiatan pelatihan guru melalui workshop KKG sesuai dengan prosedur. Pada umumnya para guru peserta pelatihan aktif hadir dalam kegiatan workshop.
Fasda tidak berkeberatan dan siap untuk melanjutkan tugas sebagai Fasda khususnya untuk perluasan (scale out) program rintisan INOVASI di sekolah lain. Namun mereka masih memerlukan dukungan pelatihan tambahan agar lebih mumpuni dalam memberikan pelatihan kepada para guru dan kepala sekolah.
Wawancara dengan salah seorang Fasda Literasi yang kebetulan juga sebagai Guru SD kelas 3 desa Lokory didapatkan informasi sebagai berikut:
”… pengalaman saya sebagai Fasda sudah cukup namun masih perlu penambahan materi pendalaman untuk metode menyampaikan agar guru-guru cepat memahami materi …. kami masih perlu pendampingan pelatihan dari INOVASI”.
Saat ini komponen fasilitasi tidak menjadi bagian dari unit pelatihan, seperti halnya yang sebelumnya dilakukan di program rintisan Guru BAIK.
Selain kesiapan nara sumber (Fasda) untuk perluasan dan keberlanjutan program rintisan, nampaknya juga diperlukan kesiapan pemerintah daerah, misalnya dari sisi kebijakan daerah yang kondusif untuk mendukung perluasan program rintisan INOVASI (akan dibahas lebih lanjut di sub bagian kebijakan pemerintah daerah).
Pemerintah daerah juga harus siap untuk mampu melakukan pemantauan rutin dan evaluasi apa yang berhasil dan tidak berhasil dalam pelaksanaan program INOVASI termasuk program perluasannya yang didanai oleh APBD. Hasil pemantauan selain untuk akuntabilitas kepada pimpinan daerah (upward accountability) dan masyarakat (downward accountability) juga sebagai lesson learned untuk perbaikan pelaksanaannya.
Isu pokok yang mendesak adalah belum ada bidang atau sedikitnya seksi di Dinas Pendidikan kabupaten yang khusus bertanggungjawab atas manajemen mutu pembelajaran. Ketiadaan bidang atau seksi penanggungjawab tentang mutu pembelajaran dan penilaian (formatif dan sumatif) dalam struktur organisasi di Dinas Pendidikan sungguh menjadi kendala nyata bagi keberlanjutan program pasca INOVASI.
6) Joint Monitoring sebagai jembatan komunikasi antara Guru/Sekolah dengan Pemerintah Daerah dan Pusat
Selain melakukan pemantauan langsung terhadap kemajuan pelaksanaan program rintisan INOVASI di lapangan serta kajian bersama dengan Pemda, joint Monitoring juga telah berhasil menjembatani komunikasi antara guru/sekolah dengan Pemda untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi guru/sekolah, termasuk masalah keterlambatan penerimaan dana BOS.
Selain itu joint monitoring juga berhasil menginisiasi kemungkinan kolaborasi kelembagaan antara Pemda dan Pusat untuk mendukung program literasi di sekolah, seperti review buku perpustakaan sekolah rekomendasi dari Puskurbuk( Kemendikbud ) kepada Pemda untuk pengadaan/seleksi buku secara berjenjang sesuai dengan usia anak.
Kehadiran Tim Joint monitoring dalam dialog dengan masyarakat desa untuk pengembangan Desa Literasi (di Desa Lokory) juga ikut menguatkan pentingnya kolaborasi antara masyarakat desa dengan sekolah untuk penguatan budaya baca di sekolah dan masyarakat. Penggunaan dana yang ada di desa, seperti ADD dan dana desa, dapat digunakan sebagai sumber dana potensial bagi dukungan pengembangan program literasi di desa dan sekolah. Dengan demikian diharapkan bahwa penggunaan dana desa tidak hanya terkonsentrasi untuk pembangunan sarana fisik, namun juga mendorong kemajuan literasi warga desa dan sekolah.
Tokoh masyarakat setempat mengungkapkan dukungan kuat kepada program literasi:
“ …. . program literasi sangat menyentuh kebutuhan masyarakat … intinya agar supaya anak-anak pandai baca tulis … kami … masyarakat kalo ditanya apakah mendukung . . . masyarakat siap mendukung … apalagi ini terkait masalah pendidikan … sebagai warga negara yang baik kami mendukung program pendidikan … jangan sampai generasi kami ke depan terbawa oleh persoalan kami sekarang (banyak yang tidak bersekolah formal, hanya ikut paket A dan B) ……”
Peserta diskusi dari perwakilan orang tua siswa mengucapkan terima kasih atas kunjungan Tim Joint monitoring ke desa, serta mengungkapkan pentingnya dukungan INOVASI untuk kegiatan literasi di sekolah dan di masyarakat untuk kemajuan pendidikan anak:
“ …. kami berterima kasih Tim INOVASI datang melihat kondisi kami … anak-anak kami bisa lebih maju di hari-hari ke depan …. tidak seperti kaminbanyak tidak mengerti calistung …. dengan adanya INOVASI yang mendukung kegiatan di sekolah maupun taman bacaan … itu yang kami harapkan agar anak kami tidak saja belajar di sekolah tetapi juga di saat tidak sekolah … kami bisa mengajak mereka ke taman bacaan … sehingga mereka bisa memiliki pengetahuan selain didapatkan dari sekolah … itu harapan kami dari orangtua …”
Kepala desa juga mengungkapkan bahwa desa siap membantu sekolah tidak hanya dalam hal penyediaan buku namun juga perbaikan ataupun pengadaan meja kursi siswa yang rusak, dan rencananya akan dianggarkan dalam APB Desa tahun depan. Kepala desa tergerak untuk membantu sekolah melalui ketersediaan dana yang ada di desa. Dari semua ungkapan tersebut tersurat bahwa masyarakat siap berpartisipasi dalam mendukung program literasi, baik yang ada di sekolah maupun di desa. Hal ini merupakan modal dasar untuk membangun kebersamaan dalam menuntaskan masalah literasi di desa ini.
7) Konteks Program Rintisan:
Berikut beberapa konteks dari pelaksanaan program rintisan INOVASI di Sumba. Pemahaman akan konteks penting untuk bisa memahami whats works and what doesn’t in context dalam pelaksanaan program rintisan INOVASI di daratan Sumba.
- Latar belakang budaya dan perjuangan anak menuju sekolah Lokasi geografis sekolah kadangkala jauh dari pemukiman warga, sehingga anak harus menempuh perjalanan relatif jauh sekitar 3 hingga 4 km. Karena tidak ada kendaraan umum dan orangtua tidak memiliki kendaraan bermotor maka anak harus jalan kaki ke sekolah. Tidak jarang a n a k h a r u s m e l e p a s s e p a t u u n t u k menghemat agar sepatu tidak cepat rusak. Umumnya anak tidak sarapan sebelum sekolah, menurut penuturan orangtua siswa anak hanya ‘minum air panas’ (teh) sebelum berangkat sekolah. Dengan kondisi demikian anak, terutama pada kelas rendah, akan cepat lelah dan lapar menempuh perjalanan jauh dan tidak sarapan ketika berangkat ke sekolah. Kondisi demikian akan mempengaruhi kemampuan konsentrasi anak dalam mengikuti pembelajaran di sekolah. Perlunya intervensi gizi anak sekolah, dan program gizi anak sekolah umumnya juga mampu menaikkan tingkat kehadiran anak di sekolah. Para guru mengeluhkan tingkat absensi siswa yang cukup tinggi. Hal ini disebabkan oleh ritual budaya, hari pasar, dan hal lainnya. Konsekuensi dari absensi siswa dan guru akan berpengaruh dalam pencapaian prestasi akademik siswa karena pelajaran sehari-hari akan berjalan terus dan anak yang absen bisa ketinggalan pelajaran. Belum ada solusi systemic untuk mengatasi hal ini, hanya kemauan guru untuk memberikan perhatian khusus pada anak yang ketinggalan pelajaran. Kondisi tersebut di atas akan menjadi potential confounders untuk analisa dampak program rintisan INOVASI terhadap hasil belajar siswa.
- Desa Literasi sebagai bentuk kepedulian Pemda dan masyarakat terhadap upaya perbaikan kapasitas literasi warga masyarakat dan anak sekolah Pada tahun 2019, Desa Lokory (di Sumba Barat) diusulkan menjadi Desa Rintisan Literasi. Untuk me-realisasikan hal tersebut, Kepala Desa Lokory, dalam APBDesa, sudah menganggarkan pembentukan Pos Baca dan pembentukan Taman Bacaan Masyarakat di 4 dusun , termasuk pengadaan/pembelian buku bacaan non-teks. Penggunaan sebagian dana desa untuk pengadaan Taman Bacaan Masyarakat sesuai dengan kebijakan pemerintah dalam hal prioritas penggunaan dana desa (lihat: Permendesa No.16/2018 Tentang prioritas penggunaan dana desa tahun 2019). Di tahun ini diharapkan terbitnya PerDes (Peraturan Desa) tentang ketentuan 2 jam membaca untuk masyarakat dan anak sekolah. Dengan PerDes tersebut diharapkan orang tua dan anak sekolah melakukan kegiatan membaca di rumah selama 2 jam minimal sehari dalam seminggu. Tujuannya agar membaca buku merupakan kebiasaan masyarakat dan diharapkan masyarakat menjadi cerdas dan literat dalam berbagai hal. Program Desa Literasi ini tentunya sangat berguna dalam mendukung pembiasaan membaca bagi anak sekolah karena adanya dukungan dari orangtua dan masyarakat. Selain itu program Desa Literasi dapat menjadi sarana penghubung keterbatasan akses masyarakat terhadap sumber bacaan yang umumnya tersedia di wilayah perkotaan. Bila dimungkinkan INOVASI bisa menjadi jembatan komunikasi untuk penyediaan daftar buku bacaan non-teks yang mendukung efektivitas program Desa Literasi.
- Kebijakan pemerintah daerah dalam mendukung program pendidikan Dalam era otonomi daerah, urusan pendidikan merupakan salah satu kewenangan Pemerintah Daerah. Oleh karena itu bagaimana visi dan misi pimpinan daerah dalam sektor Pendidikan merupakan faktor penting dalam mendukung keberhasilan program literasi dan numerasi sebagaimana yang telah diinisiasi oleh INOVASI dan mitra kerja lainnya. Secara umum, semua pimpinan daerah di daratan Sumba telah sepakat untuk mendukung pengembangan kebijakan dan program meningkatkan hasil pembelajaran siswa jenjang sekolah dasar (SD/MI), yaitu dengan terbentuknya Forum Peduli Pendidikan Sumba (FPPS). Forum tersebut beranggotakan wakil bupati, kepala Bappeda,dan kepala Dinas Pendidikan dari setiap kabupaten di Sumba. Di setiap kabupaten juga dibentuk Tim Pengembangan Literasi yang terdiri dari pejabat pemerintah di sektor pendidikan, pengawas sekolah, kepala sekolah, dan guru. Komitmen pemerintah daerah Sumba dalam meningkatkan mutu Pendidikan dasar di Sumba telah diikuti dengan berbagai kebijakan Pendidikan yang kondusif untuk mendukung peningkatan hasil belajar siswa. Pada tahun 2019, pemerintah daerah Sumba (4 kabupaten) mengalokasikan dana APBD sebesar IDR.5,921,600,000 , untuk mendukung kegiatan pelatihan guru, scale out Guru BAIK, serta pengadaan buku pelajaran sekolah dasar.
Berbagai kebijakan pendidikan yang dijalankan oleh Pemerintah daerah dan jajarannya tentunya sangat kondusif untuk mendukung scale out dan sustainability dari program rintisan INOVASI di daerah Sumba. Dan yang terpenting adalah bagaimana realisasi dari komitmen tersebut. Oleh karena itu perlu dukungan dari Tim MERL dengan kerjasama Tim Education Policy and Governance INOVASI untuk memantau sejauhmana kebijakan-kebijakan yang telah dikeluarkan oleh Pemda Sumba dijalankan dengan baik. Masa depan pengembangan program rintisan INOVASI di Sumba memiliki prospek baik karena selain komitmen dari champions di daerah, program INOVASI umumnya sejalan dengan RPJMD dan Renstra OPD (Dinas Pendidikan dan Olahraga). Dengan kata lain ada legal basis dari pengembangan program INOVASI tersebut.
REKOMENDASI
- Pemantauan Bersama ini menghasilkan beberapa rekomendasi sebagai berikut: Perlu tindak lanjut bagi kerjasama kelembagaan antara Puskurbuk-Kemendikbud dengan Pemerintah Daerah Sumba untuk review buku-buku pelajaran dan non pelajaran untuk mendukung peningkatan mutu perpustakaan sekolah dan taman bacaan masyarakat. Proses kerjasama tersebut bisa difasilitasi oleh Tim INOVASI.
- Surat Edaran Bersama antara Dinas Pendidikan dan Dinas Pemberdayaan Masyarakat & Desa, khususnya Kabupaten Sumba Barat untuk memaksimalkan fungsi Desa Literasi , termasuk pembinaan kerjasama antara sekolah dan pemerintah desa dalam mendukung program peningkatan literasi di sekolah dan masyarakat.
- Kerjasama lintas sektor dalam menangani masalah pendidikan literasi dan numerasi secara komprehensif. Misalnya, kerjasama antara Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan untuk meningkatkan status gizi anak sekolah melalui program gizi anak sekolah. Program demikian penting untuk meningkatkan kualitas SDM masa depan anak serta menunjang suksesnya program INOVASI dalam meningkatkan hasil belajar anak . Program sejenisnya telah dikembangkan oleh Direktorat Pendidikan Dasar–Kemdikbud dapat dijadikan sebagai referensi dalam pengembangan program sejenis dalam konteks program rintisan INOVASI.
- Meningkatkan peran serta orang tua untuk membantu kesiapan belajar anak, termasuk pemberian sarapan pagi sebelum anak ke sekolah.
- Review terhadap kapasitas Fasda serta analisa kebutuhan pelatihan bagi pengembangan Fasda. Diperlukan komitmen Pemda untuk memperdayakan Fasda dalam pengembangan program rintisan INOVASI didaerahnya.
- Kerjasama antara Tim MERL , Tim Kebijakan Pendidikan dan Governance INOVASI, dan mungkin juga perwakilan Kemendikbud (Puslitjakdikbud) untuk kegiatan pemantauan Bersama implementasi kebijakan Pemda dalam mendukung kegiatan program rintisan INOVASI. Bila perlu, dilakukan swot analysis terhadap kemungkinan penerapan dari kebijakan Pemda dalam mendukung program rintisan INOVASI.
- Perlu review dari Tim INOVASI daerah dan Fasda mengenai pola penataan alat bantu belajar di kelas (tembok kelas) agar kelas lebih efektif dan tujuan penggunaan alat peraga untuk mendukung proses pembelajaran tercapai.
- Advokasi dari Tim INOVASI kepada sekolah agar dukungan untuk pendanaan kegiatan literasi dan numerasi dimasukkan dalam RKAS. Bila perlu Tim INOVASI daerah memberikan asistensi kepada sekolah dalam penyusunan RKAS. Dukungan dari dinas Pendidikan agar pencairan dana BOS tidak terlambat sangat dinantikan oleh sekolah.
- Perlu dukungan dari sekolah untuk keaktifan guru dalam forum KKG, khususnya dukungan biaya transportasi untuk lokasi sekolah yang jauh dari tempat KKG. Dukungan surat edaran dari Dinas Pendidikan tentang keaktifan guru dalam KKG akan membantu kepala sekolah dalam merealisasikan dukungan tersebut.
- Spirit Forum Penduli Pendidikan Sumba (FPPS) dengan motto “Maju Bersama” perlu difasilitasi untuk meningkatkan konektivitas antar program antar kabupaten se-daratan Sumba. Pilot Transisi Bahasa Ibu di Sumba Timur relevan untuk semua kabupaten sedaratan Sumba. Demikian juga dengan Pilot Kepemimpinan untuk Pembelajaran di Sumba Barat. Dalam forum FPPS perlu dibahas tentang berbagi pengalaman, sumberdaya, dan kebijakan yang berpihak pada peningkatan mutu pembelajaran di kelas.
- Me l a l ui F P P S tia p k a b upa te n pe r l u membahas dan mencari solusi guna terbentuknya dan berfungsinya bidang (atau sedikitnya seksi) di Dinas Pendidikan yang mempunyai tugas pokok & fungsi terhadap manajemen “mutu pembelajaran dan penilaian”.
- Pustekom dengan kerjasama INOVASI diharapkan bisa memfasilitasi pengembangan sistem pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komunikasi untuk mendorong penyebaran yang lebih luas dari berbagai pengalaman dan praktek baik, baik secara online maupun offline.

Leave a comment